Teman Tiga Puluh Hari

“Aku benci melemah seperti ini, kadang aku kesal pada diriku sendiri

Aku tidak ingin tergantung pada orang lain

Aku tak mau berharap lagi kepada siapapun

Mengapa?

Karena aku tahu, aku tahu bagaimana akhir dari pengharapanku

Akhir yang selama ini aku hadapi selalu tidak sesuai harapanku, dan mungkin yang kali ini pun sama”

Suatu waktu yang tak pernah kurencanakan, datang seseorang yang awalnya kukira ia akan menjadi obat dari perihnya luka hatiku. Ia datang menawarkan keindahan, ia datang menggambarkan harapan baru, ia datang memaparkan janji kehidupan yang lebih indah (kurasa). Ini salahku (lagi) yang dengan mudahnya menganggap dia lebih baik dari yang dulu–yang menorehkan luka di hatiku. Tapi, bolehkah aku ditempatkan di posisi yang benar untuk beberapa kesempatan saja? Ada kala aku tidak ingin disalahkan bahkan oleh diriku sendiri. Ada saat aku membutuhkan pembenaran bahwa aku tak salah berharap pada janji indah miliknya.

Tapi, salah tetap salah, bukan? Dan ini memang (selalu) salahku. Janji yang diberikannya memang hanya ungkapan manis yang mungkin saat ini ia bahkan melupakannya. Menguap begitu saja tak seperti cinta lalunya yang selalu mengendap. Ya, kini ia pergi saat aku kira luka lamaku nyaris sembuh, menjauh setelah membuatku begitu nyaman dengan kehadirannya, hilang ketika aku mulai mencandunya. Seharusnya dia tak perlu singgah di sini, di hati ini, jika kenangan lamanya masih tak bisa ia singkirkan, jika separuh hatinya masih terpaut di hati kekasih lamanya, jika harapan untuk kembali masih teramat besar pada cinta lalunya.

Seharusnya dia tahu, dia memang telah mengobati batinku, tapi itu bukan berarti batinku sudah sembuh. Dan kini ia berlalu saat masa pemulihanku, berlalu semaunya tanpa ia tahu ia telah memberi luka batin yang baru kemudian menoreh kembali luka lama yang baru mau sembuh ini.

Tega, meski tak sepantasnya aku mengatakan ini. Memang apa lagi yang pantas aku utarakan? Semuanya terlalu mengekang dan tak membiarkan hatiku bebas bahkan untuk sesaat saja. Tak bisakah dia mengatakan satu kata saja untuk menjelaskan keambiguan ini? Satu kata lebih bermakna daripada pergi tanpa kata, tanpa pesan, tanpa kesan, tanpa isyarat.

Selamat jalan, teman baruku yang kini menghilang. Selamat merajut kembali cinta kemarinmu. Kau telah dewasa, dan pasti kau tahu langkah ini yang menurutmu tepat. Aku tak menyalahkanmu, aku tak membencimu. Biar saja, aku menjadi persinggahan di perjalanan yang kau bilang melelahkan ini. Kini, kau telah membuat perjalananku cukup melelahkan pula. Tak apa. Aku sudah biasa, bukan? Aku pernah menjalani pesakitan untuk waktu ratusan hari, dan aku tak mungkin ringkih begitu saja dengan pertemanan 30 hari kita. Terima kasih.

Kamis, 18 juli 2013   21:14

Advertisements

2 thoughts on “Teman Tiga Puluh Hari

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s