Biar Aku Saja Yang Tahu

Entah kenapa belakangan ini hatiku cerah sekali. Meskipun tidak setiap hari mendengar kabar dari Faiz, tapi itu bukan masalah, yang penting aku tahu ternyata status hubungannya itu palsu dan Faiz belum punya pacar. Faiz. Dia teman baikku sejak semester awal kuliah. Aku menyebutnya teman kesayanganku. Mungkin karena kami sering bersama, perasaan bodoh itu pun muncul di hatiku. Ya, aku mencintai Faiz bukan sebagai teman, entah sejak kapan.

Sore ini dingin sekali. Secangkir cokelat hangat menyelamatkanku dari kebekuan. Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Ah, paling sms dari operator. Dengan malas aku raih benda itu. FAIZ! Mataku terbelalak melihat nama yang muncul di layar ternyata Faiz. Dengan berdebar kubaca perlahan pesan itu.

From    : Faiz (+628584657xxx)

                Tiwi, aku di taman sebelah rumah kamu. Kesini dong, temenin.

Begitu membaca pesan itu aku langsung meraih jaket yang kugantungkan di sandaran sofa. Lalu pergi ke taman samping rumah, tak peduli bagaimana dinginnya hari sehabis hujan itu.

Hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di sana. Dan seperti mimpi aku melihat Faiz duduk di salah satu ayunan dengan jaket biru kesayangannya yang ia rapatkan hingga dagu, celana jeans biru dongker, dan converse putih yang kini tercemar oleh noda lumpur. Faiz, aku rindu sekali, kurang lebih dua bulan aku tak melihatmu sejak liburan semester 5 ini dimulai.

Aku menghampiri, “Hey, ngapain ke sini? Aku kira kamu lagi di Bogor.” Bogor adalah kota kelahirannya.

“Hey, Wi.” Faiz menatapku sambil tersenyum. Manis sekali. Senyum itulah yang membuatku jatuh cinta. “Aku sampai di kostan tadi pukul 11.00. Bosan juga kelamaan di Bogor, gak ada yang bisa dikerjakan. Eh, ternyata kostan sepi lebih membosankan, ya? Haha. Ya udah, daripada aku mati bosan, mendingan aku ke sini.”

“Ya ampun, Iz. Ada-ada aja. Kenapa ngedadak gini? SMS pas kamu udah sampe sini, bagaimana kalau aku lagi gak di rumah?”

“Gak usah khawatir gitu dong, Wi. Biasa aja kali. Lagian aku punya firasat kamu ada, makanya aku langsung ke sini deh. Bener kan! Ternyata kamu memang lagi di rumah. Kenapa bengong di situ? Sini, duduk di sini!” Faiz mengayunkan ayunan di sebelahnya.

“Siapa yang khawatir, biasa aja tuh.” Kataku, sambil duduk di ayunan sebelah Faiz dan merapatkan jaket karena sesekali angin kencang menghembuskan udara yang lebih dingin.

“Wi, boleh tanya sesuatu?” Aku tidak menjawab, hanya menoleh ke arahnya. “Wi, kenapa selama ini bisa percaya sama aku? Apa yang Wi lihat dari aku? Maaf kalau pertanyaan ini mungkin terdengar aneh.”

Aku menoleh lagi ke arahnya, memastikan kalau pertanyaannya itu serius. “Iya nih, pertanyaannya aneh.” Aku diam sejenak, menghirup dalam-dalam bau tanah di hujan pertama bulan ini. “Gak tahu kenapa, Iz. Susah dijelasin. Jawabannya mungkin sama kalau aku tanya kenapa kamu bisa percaya sama aku.” Padahal jawabannya sangat singkat, yaitu karena aku cinta kamu, Iz. Tapi, tidak, tidak. Jangan sampai hal itu keluar dari mulutku.

“Eeeh, malah nanya balik.” Jawab Faiz lalu mengerucutkan bibirnya.

“Ya, habisnya aku bingung jelasinnya bagaimana dan dari mana.” ujarku.

“Wi, wi.. Dari dulu kalau aku tanya hal ini bingung terus jawabannya. Kayanya aku tahu deh alasannya.”

“Hah, memang sebelumnya kamu pernah nanya hal ini, Iz?” Faiz tidak menjawab, tapi nafas yang dia hembuskan dengan keras membuat aku tahu jawabannya. “Aku bingung bukan berarti aku gak tau jawaban dari pertanyaan kamu itu. Tapi, gak mudah buat ngejelasin ke kamu, Iz.”

“Haha, berlebihan banget sih, Wi. Atau jangan-jangan, Wi suka sama aku ya?”

Aku kaget mendengar Faiz bicara itu. Dadaku berdebar cepat sekali, mungkin wajahku pun langsung memerah saat itu. Ah, itu kan pertanyaan bodoh. Jelas-jelas jawabannya: IYA, AKU SUKA KAMU, FAIZ. BARU NYADAR, HAH? KEMANA AJA SELAMA INI? Tapi mana mungkin aku jawab seperti itu. Aku perempuan, bahasa yang aku gunakan non-verbal. Jadi, kumohon mengerti, Iz!

“Haha, becanda kok, Wi.” Faiz memecahkan lamunanku.

Aku sebisa mungkin menutupi kegugupanku. “Haha, kamu juga berlebihan nanggepinnya. Kok bisa kepikiran kayak gitu, Iz?” tanyaku sambil tertawa hambar.

“Gak tahu. Tiba-tiba kepikiran aja.” Faiz diam sejenak. “Hm, Wi sekarang lagi deket sama siapa, Wi?” tanya Faiz ragu.

Hah? Serius nih dia nanya hal itu? Iz, aku lagi gak deket sama siapa-siapa. Bagaimana bisa aku menjalin hubungan dengan seseorang sedangkan hati aku masih tersangkut di kamu dan sulit dilepaskan.

“Yah, malah diem. Gak rame ah.” Lamunanku pun buyar lagi.

“Oh, sorry. Aku lagi gak deket sama siapa pun. Beberapa waktu yang lalu ada yang sempet deket, tapi akhirnya malah kecewa. Capek, ya, kalau berharap sama seseorang tuh, rentan kecewa.” Aku menundukkan wajah, mengayun-ayunkan kaki berharap rasa gugup berkurang.

“Memang dikecewain sama siapa, Wi? Yaa, pengin tahu aja orang yang lagi disukai temen aku. Hehe.”

Teman? Ya, gak ada yang salah dari yang dia bilang. Memang kita cuma teman, kan? “Jadi curhat dong?”

“Biarin lah, nanti giliran aku yang cerita.”

“Aku gak mau nyebut nama, malu.” Aku menghela napas panjang. “Aku sempat suka sama seseorang. Kami sudah saling nyaman, tapi sayang, kami kejebak di zona teman, Iz. Buat aku gak masalah, karena dengan ada di dekatnya pun aku sudah cukup bahagia. Tapi, ternyata sedih banget, Iz, waktu tahu dia menjalin hubungan sama seseorang yang aku gak tahu siapa. Terus, datang orang baru saat aku lagi sedih-sedihnya. Kami cukup dekat, dan dia sempat berhasil mengurangi kesedihan aku.  Tapi, waktu aku kira orang baru itu bisa jadi “obat”, dia malah mundur perlahan. Gak tau, mungkin ada yang salah dari aku.” Tuturku sambil menahan pilu.

“Memangnya orang pertama itu gak tahu perasaan kamu? Trus buat orang kedua, kenapa bisa mundur gitu?”

“Sepertinya gak tau, Iz. Dia orangnya cuek. Dan untuk orang kedua boleh kan gak aku bahas? Soalnya menurutku dia orang yang kalah sebelum perang. Haha. Payah. Waktu dia mulai jaga jarak, aku jadi ingat lagi dengan orang pertama itu. Udah lama aku suka sama dia, tapi dia gak pernah nyadar.”

“Ya ampun. Tenang aja, Wi, kayaknya bakalan hadir deh orang yang ketiga yang bisa memperbaiki semuanya.” Faiz menepuk bahumu, bermaksud memberiku kekuatan. Seketika saja kehangatan menjalari tubuhku tapi justru malah membuatku meleleh. Mungkinkah orang ketiga itu sama dengan orang pertama?

“Ya, kuharap begitu. Terima kasih Faiz.” Aku tersenyum sekaligus kecewa, ternyata dia tidak menyadari bahwa orang pertama yang aku maksud itu dia. “Ok, sekarang giliran kamu yang cerita.”

“Cerita apa ya, Wi?”

“Apa pun. Bisa tentang pacar kamu, orang yang lagi kamu sukai, atau apa pun. Terserah.” Kataku, bermaksud untuk mengorek lebih dalam.

“Kan aku udah bilang, Wi. Aku udah gak punya pacar, tapi udah punya calon istri. Hehe.”

Apa? Aku tidak salah dengar, kan? Hatiku panas, perih, sakit, seperti dibanting dari langit. “Oh, ya? Siapa orangnya? Apa aku kenal dia?” tanyaku ragu.

“Hm, gak tau, Wi. Kayaknya kenal deh. Pokoknya orangnya manis dan baik. Mirip-mirip aku gitu lah. Haha.” Mungkin Faiz bermaksud becanda, tapi sama sekali gak ada hal yang lucu saat kepingan hatiku tiba-tiba rontok begitu saja.

“Oh. Hm, apa dia tahu perasaan kamu?” tanyaku lemas tertunduk.

“Pasti tahu lah, Wi. Dia kan mantan pacar aku. Aku gak mau pacaran sama dia, lebih baik kami sendiri-sendiri dulu. Kalau waktunya udah tiba aku akan langsung menemui orang tuanya.”

Oh, Tuhan. Semua sudah sangat jelas. Terlalu jelas malah. Jadi, Faiz memilih putus dan bertemu di pelaminan.  Ini lebih dalam sakitnya bagiku. Aku sudah tidak bisa berbicara apa-apa lagi, karena aku tidak dapat berbicara dengan baik saat air mataku nyaris keluar.

“Lain kali aku cerita lebih banyak deh. Tapi, aku yakin sih, nanti juga kamu bakal tahu sendiri siapa orangnya.” ujar Faiz sambil tersenyum lalu menengadahkan kepalanya menatapi awan yang mendung.

Penasaran, siapa perempuan itu? Tapi dengan tahu pun tidak akan mengubah dan memperbaiki keadaanku. Jadi, lebih baik aku tidak tahu, lebih baik aku tidak mengenalnya, Iz. Aku tidak tahan lagi menahan tangis ini lebih lama lagi. Aku mau pulang. Melihat dan bersamanya di sini semakin menyesakkan.

“Iz, sepertinya aku harus pulang sekarang. Aku tidak tahan lebih lama lagi di sini, udaranya semakin dingin.” Kataku dengan suara bergetar.

“Lalu aku bagaimana? Gak akan mengajakku ke rumah, Wi?”

“Hm, gak untuk sekarang, Iz. Di rumah lagi gak ada siapa-siapa.” Ujarku sambil berdiri dan bersiap untuk langsung pergi tanpa menunggu dia berkata apa-apa lagi. Aku mulai melangkahkan kakiku, tiba-tiba dia menahan tanganku.

“Wi, makasih ya.”

Langkahku tertahan. Aku menoleh sekilas, mengangguk, dan melepaskan genggamannya. Lalu melangkah dengan cepat meninggalkan ia sendiri. Kini bulir-bulir air mataku pun dengan bebasnya menjalari pipiku. Kali ini takkan kutahan lagi, biar air mata ini habis sekalian.

Setibanya di rumah, aku langsung berlari ke kamar, memburu boneka kesayanganku dan menangis sejadi-jadinya. Hingga akhirnya aku pun terlelap dengan luka baru yang lebih menyayat.

———————–

            Masih berharap semua ini adalah mimpi buruk bagi tidur lelahku yang malang lalu aku terbangun dalam keadaan lupa akan mimpi itu. Masih berharap pagi ini memberikan harapan baru untukku. Bodoh. Ini pengharapan terbodoh. Semua sangat jelas dan nyata, lalu aku masih mau saja berharap? Kurasa sudah cukup ku menunggu, semua perasaan ini harus hilang.

Selamat ya teman kesayanganku. Biar aku saja yang tahu tangisan ini. Tangisan untuk semua kata dan perasaan yang tak mungkin terungkapkan. Jika menangis bisa membuatku lebih tenang, lega, dan rela (mungkin), aku mau untuk terus menangis hingga kenyataan ini lebih indah bagiku.

Image

20 Agustus 2013

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s