Pesan Dalam Diam

Hari ini adalah hari kesekian aku menghindarimu. Nomormu telah kuhapus. Profilmu telah kusembunyikan dari timeline-ku. Dan aku menonaktifkan semua ruang perbincangan kita. Sebisa mungkin aku tak ingin ada celah untuk bertemu denganmu, bahkan dalam dunia maya sekalipun.

Pagi ini terlalu cerah untuk murung memikirkanmu. Tiba-tiba handphone bergetar pertanda ada pesan masuk. Layarnya memunculkan sebuah nomor tanpa nama. Ah, aku tahu itu nomormu. Menghapus nomormu dari kontak handphone bukan berarti menghapusnya dari ingatanku yang terlanjur menghapalnya. Ragu kubaca pesan darimu. “Kamu pasti datang, kan?” ucapmu berpesan. “Tidak” pesanku membalas pasti. “Kenapa?” pesanmu bertanya. “Aku sedang menghindarimu, menjaga jarak, dan membiarkan hubungan tak pasti ini berakhir.” pesanku berdiam. Tak jadi kukirimkan pesan ini. Terlalu berterus terang. Aku tak suka.

Waktu berlalu ratusan detik dan pesanku tetap berdiam diri. Sedangkan kamu gencar mendesakku dengan pesanmu yang itu lagi-itu lagi. Kamu tahu, kotak masuk ini telah menunggu pesanmu. Lama. Dan kini, kotakku telah terlalu rapuh untuk menerima serbuan mendadak ini.

“Kamu baik-baik saja?” ucapmu dalam pesan. “Tidak. Tentu saja tidak. Kamu pikir aku akan tidak apa-apa setelah kamu pergi tanpa isyarat bersama dia?” pesanku kembali diam. “Maaf atas kekeliruan yang tidak aku pahami.” pesanmu memohon. “Bukan kamu yang keliru, hanya hati ini saja yang keliru memilih jalan menuju indahmu.” diamku mengirim pesan. “Balaslah pesanku ini. Apa pesan ini tidak sampai padamu?” pesanmu mulai meradang. “Pesanmu selalu tersampaikan. Pesan tersirat bahwa kamu memilih ia yang bukan aku. Sedangkan aku, tak pernah berhasil mengodekan kata-kata yang mampu kamu pahami. Hingga akhirnya, setelah sekian lama, pesan dan isyaratku hanya mampu mengendap dalam tulisan di halaman usangku.” untuk kesekian kalinya pesanku bertahan dengan kediamannya.

“Baiklah, aku akhiri saja. Mungkin kamu sedang terlalu sibuk saat ini. Tidak bosan aku untuk bilang, m-a-a-f.” pesanmu pun berakhir. “Berakhir? Ya sudahlah berakhir saja. Tanpa kamu sadari, kamu telah mengakhirinya jauh-jauh hari sebelum pesan pertamamu di pagi ini tiba. Aku memang sedang sibuk. Sibuk membisukan cemburu saat kamu bersamanya. Sibuk membutakan perasaan ketika ia menculik hari-harimu bersamaku. Sibuk menyergap tangis kala langit terlalu teduh memayungi kasih kalian. Dan aku sungguh sangat sibuk. Sibuk melupakanmu tepatnya.” pesanku kini ikut-ikutan sibuk dengan diamnya.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s