Pertemuan Sang Alur Lambat

Hari ini kami bertemu untuk pertama kalinya. Bukan pertama kali sebenarnya, karena sudah banyak pertemuan-pertemuan sebelumnya yang tidak sengaja kami agendakan. Lebih tepatnya, hari ini dialog nyata antara kami dimulai. Tidak hanya sapaan dan segala macam basa-basi di sudut maya. Tidak hanya sebatas balas senyum seperti beberapa hari sebelumnya. Hari ini aku dan dia bertemu di salah satu waktu yang telah direncanakan.

Pertemuan pertama ini terasa kaku. Beku. Lebih banyak diam, canggung. Matanyalah yang pertama kali menanyakan kabar. Berbasa-basi membicarakan cuaca. Berbelit pandang hanya untuk bertukar cerita atas kejadian baru-baru ini. Mata kami saling berbicara, menggantikan tugas bibir yang tetiba tidak mampu mengeluarkan banyak kata selain “Hai” di awal dan “Makasih” di akhir. Pertemuan ini singkat saja. Tapi mata ini mampu menangkap bahwa ada frasa penting yang tertinggal dan tidak terucap.

Baiklah, biar di akhiri saja jumpa ini. Dia yang menginginkan. Dia yang tidak terlalu berani mengeluarkan ungkapan ini itu. Dia yang harus berdamai dengan hatinya sendiri agar aku tidak perlu menunggu lama.
Mungkin masih ada pertemuan-pertemuan lain. Mungkin. Itupun jika aku masih bersedia menunggu alur lambat ini.

-hanya sebatas cerita di penutup senja

Image

sumber gambar: http://mithasatyani.blogspot.com/search/label/hopes.

 

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s