Lupakan Cerita Laluku

Sudah larut. Sudah sangat larut dan melewati waktu tidur normalku. Aku menunggu, tapi pesanmu tak sampai juga. Tidak seperti malam kemarin, pun malam-malam sebelum kemarin. Malam ini terlalu sunyi tanpa bincangan bersama kamu. Ke mana kamu? Apa karena….

Ah, sudah kubilang, aku tidak mau menceritakan apa-apa kepadamu. Tapi kamu paksa untuk mendengarkannya. Kamu mau tahu cerita laluku. Pertahananku lemah. Menceritakan kisah lalu itu seperti mengusik kembali luka lama yang mulai mengering. Menceritakannya kepadamu berarti mengingatkan aku betapa dia tega melepasku begitu saja demi bersama perempuan lain. Sudah kubilang aku tidak mau mengungkit-ungkit lagi ini.

Akhirnya kamu tahu bagaimana aku dulu yang menyebabkan aku kini. Harapanku, kamu bisa membantuku melupakan yang telah lewat dan menemaniku menjalani yang akan datang. Tapi, kamu malah membiarkan aku meratapi kisah itu, membiarkan aku mengenang dia, membiarkan aku maju sendiri dengan langkah yang masih tertatih. Sedangkan kamu seperti tidak mau tahu apa yang terjadi selanjutnya padaku. Sudah kubilang sebelumnya, cerita ini tidak penting untuk kamu ketahui.

Kumohon lupakan saja semua yang aku bilang. Anggap saja itu dongeng pengantar tidurmu. Dan, maaf jika ini bukan dongeng yang terlalu indah untuk menemani tidurmu. Jika kamu berkenan hadir lagi di malam-malam setelah ini, aku akan menceritakanmu sebuah dongeng yang jauh lebih indah. Jadi, bersediakah datang lagi? Karena malam terlalu dingin tanpa candaan bersamamu.

Image

Sumber gambar: deviantart.com

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s