Resensi Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Judul: Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Penulis: Dee
Penerbit: Truedee Books
Genre: sci-fi (science fiction)
Halaman: 286 halaman
Tahun terbit: 2001
ISBN: 979962570X (ISBN13: 9789799625700)

Image Buku ini menceritakan tentang sepasang gay yang bernama Ruben dan Dhimas. Mereka bertaruh untuk membuat sebuah karya besar 10 tahun dari pertemuan pertama mereka. Ketika saat itu tiba, karya besar yang mereka putuskan untuk dibuat adalah sebuah buku. Mereka berkolaborasi dalam penulisan buku tersebut. Dhimas yang memiliki kemampuan lebih dalam bidang tulis menulis berpadu dengan Ruben yang memiliki pengetahuan yang sangat luas di bidang sains, menghasilkan sebuah cerita dengan genre science-fiction.

Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh merupakan buku keempat karangan dari Dewi ‘Dee’ Lestari yang saya baca. Juga merupakan novel Dee pertama yang saya baca, karena tiga buku sebelumnya merupakan buku kumpulan prosa. Jadi, jika dibandingkan dengan buku Dee lain yang pernah saya baca, Supernova memiliki kelebihan karena setiap masalah lebih dijelaskan secara detail, tidak seperti cerpen maupun prosa. Sebelum membaca buku ini, saya sempat me-review komentar dari para pembaca. Sebagian besar mengatakan bahwa Dee menulisnya dengan memasukkan banyak bahasa yang cukup berat (kecuali pembaca yang berlatar belakang pendidikan sains, pasti paham benar maksud dari istilah-istilah tersebut). Begitu juga dengan saya. Saya yang berlatar belakang pendidikan administrasi dan sangat kurang pengetahuan di bidang sains, filsafat, dan sebagainya, merasa kebingungan memahami makna dari kata turbulensi, chaos, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, dengan kosakata yang sulit (terutama saat dialog Ruben dan Dhimas), Dee tetap berhasil menyampaikan pesan dari buku Supernova yang pertama ini. Jujur, saya banyak melewatkan bagian Ruben dan Dhimas saat berdialog. Meskipun begitu saya mengerti maksud dari cerita yang mereka tulis.

Pesan yang dapat saya peroleh dari buku ini, yaitu setiap orang sebenarnya telah memiliki keutuhan dalam jiwanya, hanya saja tidak semua orang menyadari bahwa dirinya telah utuh, melainkan mereka cenderung merasa hampa dan kekurangan. Selain itu, pesan tentang kesetiaan juga sangat kental tersirat di buku ini.

Bagian yang paling menarik yaitu, ketika proses Ruben dan Dhimas menentukan penokohan cerita dan alur cerita yang akan ditulis. Tokoh-tokoh yang mereka buat unik dengan latar belakang tokoh yang berbeda-beda pula. Selain itu alur cerita yang dibuat sulit ditebak dan membuat pembaca (baca: saya) penasaran, sehingga tidak ingin melepaskan buku tersebut sebelum tamat.

Buku ini sangat layak untuk dibaca. Tidak perlu menjadi masalah jika banyak istilah ilmiah yang tidak dimengerti, karena makna yang terkandung masih dapat dipetik oleh pembaca awam sains sekalipun. Saya sendiri akan menyelesaikan tetralogi supernova ini dan ingin mengetahui kejutan apa lagi yang akan Dee suguhkan.

Kutipan favorit:
“Segalanya terjadi tak terduga-duga. Hanya ada satu yang pasti dalam hidup, yaitu ketidakpastian. Hanya ada satu yang patut Anda harapkan, yaitu yang tidak diharapkan.”

Oleh: Dewi Rahayu Hambali

Sumber gambar: chuichoco.wordpress.com

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s