Kepada Malam

Selamat malam, Malam.

Bolehkah kutemani kau?
Satu dini hari, dan kantuk masih di perjalanan, terlambat tiba tak seperti biasanya. Bahkan lelap mungkin takkan singgah malam ini. Jadi, bolehkah kutemani kau saja? Karena kulihat, kau terlalu sepi, sendiri, tapi semoga kau bahagia dengan sunyimu ini.

Hai, malam. Aku punya banyak hal yang ingin kusampaikan. Tentang hati hening yang kini mulai ramai. Tentang nada nan sumbang yang kini mulai mengalun merdu. Tentang langkah nan lemah yang kini mulai berderap. Aku mau ceritakan semuanya padamu, sebab kudengar kau pendengar sepi yang handal. Dan, sebab sulit jika segalanya kusimpan di dada.

Malam, aku punya banyak kisah yang ingin kuceritakan. Namun, entah darimana harus kumulai. Karena sungguh aku tak tahu bagaimana semua ini bermula, sejak kapan semuanya tumbuh, siapa yang bertanggung jawab atas semua tanya, dan kemana harus aku mencari titik dari semua tanda tanyaku ini.
Jika saja ada buku yang mampu merangkum semua jawaban, maka aku mau membacanya berulang-ulang hingga aku paham semuanya. Bagaimana pun, aku tetap tak akan menuntut apa-apa. Tak akan menuntut jawab dengan terburu-buru. Tuhan punya waktu yang sempurna untuk semua ini.

Malam, lihatlah fajar datang lebih cepat. Padahal cerita ini belum sempat kumulai, bahkan keheninganmu tak sedikitpun sempat kauutarakan. Ah, terima kasih telah mendengarkan prolog ini. Lain kali, aku mau lebih lama bermanja-manja denganmu.

Selamat fajar, Malam 🙂

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s