Atap Gedung Romantis (Revisi)

lilinSumber gambar: www.ariefgusti.co.vu

Langit kemerahan di kota ini perlahan-lahan datang. Senja tergelincir dari rengkuhan sang bidadari. Entah mengapa, senja kali ini jauh lebih cantik dari biasanya. Sepertinya senja pun tak sabar menyambut malam, meski malam yang akan membunuhnya.

Sabtu malam ini akan sangat mendebarkan bagi Dimas. Ia memberanikan diri untuk meminta Dien menjadi kekasihnya. Meskipun gugup, ia sangat yakin Dien akan menerima cintanya. Selama 4 tahun mengenal Dien, Dimas tahu bahwa Dien menyenangi segala hal berbau romantis. Ia pun yakin, malam ini akan menjadi hal paling romantis yang pernah Dien dapati dalam hidupnya. Atap gedung ini ia pilih karena view kota terbaik dapat ditemui dari atas sini. Selain itu, bila hal buruk terjadi, yaitu Dien menolaknya, ia dapat dengan mudah mengancam Dien bahwa ia akan loncat dari ketinggian 30 lantai ini. Tentu saja Dien tidak akan tega, sehingga pada akhirnya Dien akan menerima Dimas menjadi kekasihnya.

Selama seminggu terakhir, Dimas dibantu oleh beberapa orang temannya, bekerja keras mempersiapkan segala sesuatu untuk malam ini. Gajinya yang lebih besar sedikit dari UMR, rela ia keluarkan untuk menyewa atap gedung dan membeli semua yang dibutuhkan. Puluhan tangkai dan satu bucket besar mawar merah telah ia siapkan. Ratusan lilin telah ia susun sedemikian rupa, sehingga lilin-lilin itu berjejer rapi dari tangga hingga membentuk hati mengeliling meja makan. Kemudian, lampion warna-warni telah digantungkan di tengah dan sudut-sudut ruangan.

Arloji di tangan Dimas menunjukkan pukul 19.00, artinya satu jam lagi Dien akan datang. Untuk kesekian kalinya ia mengelilingi tempat itu untuk memastikan bahwa semuanya sempurna. Para pemain musik telah berada di sayap kanan ruangan sambil terus berlatih atas kemauan Dimas. Makanan pun hampir siap dihidangkan oleh Chef Duma, teman SMA-nya yang telah 5 tahun menjadi koki di Hotel Indonesia.

Waktu telah menunjukkan pukul 20.10. Lilin-lilin telah dinyalakan. Makanan hangat pun telah dihidangkan di atas meja. Para pemain musik masih saja berlatih. Sementara itu, Dimas terus berjalan mondar-mandir, gugup menunggu kedatangan Dien. Sudah lewat 10 menit, tapi Dimas yakin, pujaan hatinya itu pasti ingat untuk datang malam ini.

Waktu kini telah menunjukkan pukul 21.30. Lilin-lilin hampir membakar seluruh tubuhnya. Makanan di atas meja hampir dingin. Para pemain musik pun sudah kelelahan berlatih. Dimas makin gugup. Sudah satu jam setengah dan Dien belum juga tiba. Berkali-kali ia mengecek handphone, berharap ada pesan dari Dien. Berkali-kali juga ia menahan diri untuk tidak menelepon Dien, karena ia yakin Dien akan datang. Selain itu, ia tahu, Dien perempuan yang selalu menepati janji. Setidaknya ia beruntung, atap gedung ini ditutupi oleh kaca, sehingga dinginnya angin malam tidak memperburuk keadaan.

Lima belas menit berselang, handphonenya bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Nama Dien muncul di layar. Dimas sangat antusias dan segera mengangkatnya.

“Halo, D-Dien.” Dimas memulai dengan suara bergetar.

“Dimaaaas!” di seberang sana Dien memanggil setengah berteriak.

“D-Dien, Dien, kamu kenapa? Kamu ngga apa-apa, kan?” Dimas makin khawatir mendengar teriakan Dien.

“Ngga, Dimas. Aku ngga apa-apa. Kamu di mana, Dim? Kamu ngga nunggu aku di sana, kan?” tanya Dien.

“Aku masih di….” belum selesai, Dien langsung memotong.

“Dim, maaf baru ngabarin. Tamu-tamu di rumah baru pada pulang nih.” Ujar Dien.

“Tamu?”

“Dim, Bima sama orang tuanya  datang ke rumah.” Jelas Dien antusias.

“Apa? Bima?” Dimas kaget mendengar nama itu. Bima adalah sepupu terdekatnya. Beberapa kali Dimas sempat tak sengaja mempertemukan Dien dan Bima. Berkat Dimaslah Bima mengenal Dien. Bima sempat bilang pada Dimas bahwa ia tertarik pada Dien. Tapi Dimas tak khawatir, karena beberapa hari setelah itu, Bima harus pergi ke Australia untuk melanjutkan kuliahnya. Setahu Dimas, Bima baru akan pulang bulan depan. Tapi, mengapa ia sudah pulang tanpa mengabarinya, dan malah bertamu ke rumah Dien?

“Iya, Bima datang buat ngelamar aku, Dim. Aku kaget banget pas dia dateng. Apalagi aku baru pertama kali ketemu orang tuanya. Mereka dateng ngga ngasih kabar dulu. Untung aku udah dandan cantik buat ketemu kamu, sesuai permintaan kamu. Dan beruntungnya lagi, aku belum pergi ya, Dim. Ah, atau jangan-jangan kamu sama Bima sekongkol buat nyiapin semua ini. Iya, kan? Dimaas, kamu ada-ada aja sih. Tapi makasih banget looh.” cerocos Dien.

“L-lalu?” Dimas berdiri mematung dengan wajah pucat.

“Lalu apanya, Diim?”

“Lalu bagaimana dengan lamaran dari Bima? Kamu menerimanya?” ujar Dimas memberanikan bertanya.

“Tentu saja aku menerimanya, Dim. Mana mungkin tidak. Aaah, ini nih yang namanya romantis. Ngga butuh bunga, ngga butuh puisi, tapi cuma butuh keberanian buat meminta restu langsung dari orang tua untuk menikahi aku. Ah, aku ngga nyangka Bima seromantis ini. Oh iya, besok kita bisa ketemu? Aku mau cerita lebih banyak lagi, terus mau ngeliatin jari manisku yang tambah manis setelah pake cincin dari Bima.” Dien makin riang bercerita.

Dimas bagai ditimpa langit runtuh. Kakinya lemas, muka makin pucat, bibir gemetar, dan matanya nanar mengelilingi atap gedung yang telah mati-matian ia persiapkan. Lilin-lilin sudah membakar habis seluruh tubuhnya, tinggal satu dua yang bertahan. Makanan sudah dingin, es di dalam minuman sudah benar-benar mencair menghilangkan rasa manisnya. Beberapa tangkai bunga mulai lemah ditiup angin dari sela-sela atap kaca, kelopaknya berterbangan. Sementara itu, para pemain musik masih duduk di tempatnya masing-masing dengan wajah tertunduk kantuk.

Harusnya dari dulu ia melakukan ini. Empat tahun kebersamaan dengan Dien ia sia-siakan tanpa mempunyai keberanian untuk mengungkapkan cinta terpendamnya. Mengagumi Dien dalam diam bukan cara yang harus dijalani. Seharusnya ia mendeklarasikannya semenjak kedua pasang mata mereka saling bertaut di lorong perpustakaan, tempat pertama ia menemukan sosok peri yang membuat dadanya berdesir hebat. Setiap tangkai mawar merah dan puluhan puisi yang rutin ia kirimi setiap bulan, harusnya ia beri nama. Argh, bodoh. Harusnya aku langsung melamarnya saja, dalam hati ia memaki dirinya sendiri.

Samar-samar ia masih mendengar suara Dien di seberang yang masih berceloteh bahagia mengungkapkan keromantisan yang baru ia peroleh. Bima. Bima. Bima. Tak tahukah Dien bahwa nama Bima bisa menjadi racun yang dapat membunuhnya perlahan? Muak. Sementara itu, gemintang yang sedari tadi menemaninya, malah terlihat menertawakan kekalahan Dimas dari atas sana. Lampu-lampu kota pun seakan bersekutu memakinya. Semesta tak berada di pihaknya malam ini.

Handphone terlepas dari genggamannya.

“Dim, Dimas.” Dien sedikit kaget mendengar suara benturan di seberang. “Haloo, kamu masih dengerin aku, kan? Kamu masih di sana, kan?” Ia tidak mendengar suara Dimas. Sayup-sayup ia mendengar suara benda-benda yang dilempar dengan sengaja, juga teriakan marah Dimas.

Dimas kalap. Lampion-lampion yang digantung ia tarik paksa dan lemparkan begitu saja. Meja yang telah ditata rapi, ia tendang sekuat tenaga, sehingga makanan dan minuman berjatuhan. Piring dan gelas cantik itu kini berubah menjadi serpihan kaca tak beraturan. Para pemain musik yang telah terbuai alunan musiknya sendiri pun terbangun. Bingung melihat kekacauan di depannya.

“Dimas, ada apa ini?” Dien semakin khawatir dan ingin tahu.

Tiba-tiba semuanya hening. Dien mulai lega karena keributan di sana sudah berakhir. Akan tetapi, sesaat kemudian dengan jelas Dien mendengar suara pecahan kaca seperti tertabrak dengan sangat keras. Disusul suara teriakan beberapa orang yang menyerukan, “Dimaaaaas, jangaaaaaan!”

“Halo, Dimas. Dimas. Kamu kenapa, Dim? Dimaaas, jawab aku, Dim. Kamu kenapa? Dimaaaas!”

Teriakan para pemain musik itu tidak mampu menahan tubuh Dimas yang terlanjur melayang jatuh diikuti serpihan-serpihan kaca. Inilah alasan mengapa ia memilih atap gedung, yaitu agar saat kemungkinan terburuk itu terjadi, ia dapat meyakinkan dirinya bahwa hal buruk ini hanya mimpi.

Tak butuh waktu lama, tubuh Dimas menghantam aspal tepat di depan pintu masuk gedung. Dalam hati, Dimas berkata, “Dien sayang, ini sangat romantis, bukan? Aku rela mati karenamu.”

 

Jika aku adalah waktu
Aku mungkin memerankan detik
Selalu ada menemanimu
Tapi tak pernah sedetik pun kausadari

Aku berbisik di belakang, kau tak mendengar
Aku berseru di depan, kau palingkan arah
Aku berteriak di samping, kau tak peduli
Aku meraung di sudut, tetap saja. Kau tak bergeming

Enam puluh detik. Tik.
Barulah kau menyadari
Bukan. Bukan menyadariku!
Tapi menyadari sang menit yang mulai merayu

 

—- END —-

 

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s