Rindu Ini Milikmu

Sulit. Dan memang takkan pernah menjadi perkara mudah saat kita harus kehilangan orang terkasih. Seseorang yang setiap saat selalu dapat kulihat parasnya, kini telah pergi. Seseorang yang setiap hari selalu dapat kudengar suaranya, kini tiada lagi. Seseorang yang menjadi panutan dalam keluarga kecil ini, kini tak di sini lagi. Seseorang itu, kupanggil… Bapa.

Makin teringat dengan jelas setiap detail kebersamaan kami. Semenjak aku kecil, ia-lah yang menanamkan semangat dalam diri ini untuk selalu maksimal dalam mengerjakan segala hal. Memupuk untuk menjadi yang terbaik dalam situasi apa pun. Memberi tekanan dan dorongan agar aku tidak terbiasa berdiam diri di posisi nyaman. Ya, ia guru dalam kehidupanku.

Hampir tiga tahun ia melawan penyakitnya. Semangat untuk sembuh dalam dirinya membuat aku salut. Ia hebat, belum tentu orang lain dapat seperti dirinya. Perjuangannya untuk mempertahankan hidup, membuatku bersyukur bahwa hidup adalah anugerah terindah dari Tuhan yang harus diperjuangkan.

Perjuangannya mencapai titik kulminasi empat hari yang lalu. Ia sudah tak sanggup bertahan lebih lama lagi. Aku menyaksikan detik-detik terakhir hembusan napasnya, saat detak jantungnya melemah hingga perlahan hilang. Oh, Tuhan, betapa pahitnya menyaksikan hal ini, namun aku bersyukur memiliki kesempatan menemani di pengujung usianya.

Masih banyak mimpi besar yang belum ia capai; menyaksikanku di hari wisuda, menjadi wali dalam pernikahanku, hingga menimang cucu dariku kelak. Betapa perih saat menyadari mimpinya itu kini mustahil terwujud. Buah perjuangannya belum berhasil ia petik.

Baru empat hari, tapi aku sudah amat merindu  sejak hari pertama kepergiannya. Ini benar-benar menjadi rindu yang terpendam, tak tersalurkan, dan takkan pernah terbalas.

Bapa, aku merindukanmu melalui doa-doa ini, semoga rindu ini sampai padamu.
Maaf, aku terlambat mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Aku terlalu dimakan malu dan segan, hingga akhirnya kini aku menyesal.

Doa ini kujadikan sebagai tanda cintaku padamu, Bapa. Semoga Bapa tenang lebih bahagia di sana, dan di-Muliakan oleh Allah, aamiin. Aku di sini berjanji akan menjadi diri yang sebaik-baiknya dan memuliakan wanita kecintaanmu, Ibu.

Bapa, sampai berjumpa di kehidupan yang selanjutnya.

Salam,

Dewi, anak bungsu yang teramat mencintaimu.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s