Harus Bagaimana Aku Menunggumu?

Lalu, harus bagaimana lagi aku menunggumu?
Menari di jalanan basah,
melukis bulir embun,
atau menghitung daun gugur?

Harus bagaimana aku menunggumu?
Memeluk jaket,
mencumbu angin,
atau bergumul dengan lumpur?

Harus bagaimana aku menunggumu?
Bergurau bersama rintik air,
bernyanyi di balik awan gelap,
atau mendengkur bersama badai?

Harus bagaimana lagi aku menunggumu, kekasihku?
Telah kuhabiskan pagi sunyiku,
siang lengangku,
serta malam temaramku

Menantimu di persimpangan
Berharap kaudatang,
dan berkata “aku pulang, kekasihku
Kemudian kau memeluk dan merayu

Harus bagaimana lagi aku menunggumu, kekasihku?
Bahkan hujan pun tak membawakan pesan darimu,
begitupun angin,
dan langit muram itu

Kekasihku, sampai kapan persimpangan ini kujadikan batas harapan?
Haruskah hingga ku menua,
atau, barangkali mati?

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s