Seuntai Kesadaran

/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka —
jika satu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamimu 1

Dulu aku sempat menuliskan segala hal tentangmu. Mengeja kata demi kata yang kutulis untuk memastikan agar mudah kau mengerti. Tulisan itu kubuat sedemikian rupa hingga membuatnya bersuara, sehingga saat kata-kata ini sampai padamu, tak ada alasan bagimu untuk malas membacanya. Cukup dengarkan! Tulisanku ini berkata dengan sendirinya. Malu-malu dan penuh kehati-hatian kukirimkan padamu dengan paket super kilat. Namun, beberapa hari berlalu, tak ada kabar bahwa kau sudah menerimanya. Hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun, namun kau belum juga menerimanya apalagi membuka pesan dariku. Aku mulai lelah. Jika suatu hari pesan tersebut sampai padamu, rahasiakan saja. Kau tak perlu mendengarkannya juga membacanya. Sia-sia. Semua terlanjur terlambat.

 /2/
apa lagi yang bisa ditahan? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan —
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan? 2

Akhirnya saat yang dulu kukhawatirkan tiba. Pesan-pesan itu mencapaimu setelah sekian lama aku menunggu. Pesan-pesan itu menemuimu tepat ketika kau sudah bersamanya, dan aku sudah bersama dengan yang lain. Terlalu lama, dan kata-kata itu sudah berkarat untuk kaubaca dan suaranya sudah terlalu parau untuk kaudengar. Kusarankan, kaubuang saja semua ini! Segala yang dulu ingin kusampaikan perlahan memudar dan maknanya sedikit demi sedikit berguguran di rentang waktu aku menunggu. Jadi, buang saja! Sudah terlalu tak penting kini.

/3/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang —
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang 3

Naïf! Kau dengan lantang membuka lipatan-lipatan perasaan yang kini kusebut kenangan. Kaubaca kata demi kata dengan perlahan, juga menerka-nerka setiap kata yang hurufnya hilang tergerus usangnya waktu. Kau menduga-duga maksud pesanku itu. Kau mereka-reka huruf apa yang hilang dan kau mencoba-coba setiap huruf kemudian menguntainya. Tak perlu bersusah payah, kata tak sempurna itu sengaja kusimpan, kusembunyikan, sehingga sampai kapan pun kau takkan pernah menemuinya. Kini kujumpai seuntai kesadaran, bahwa bersamamu kusudah tak ingin. Selamat tinggal, kautelan saja kata-kataku, dan rasakan betapa hambarnya kini.

~~

1,2,3 Sajak-Sajak Empat Seuntai – Sapardi Djoko Damono, 1989

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s