Kaulah Timur, Akulah Barat

Aku ingin melangkah bersama denganmu. Membawa peta, menyiapkan perbekalan, dan menyusun rencana  ini itu untuk perjalanan kita. Kau mengikatkan syal di leherku, dan aku menutup rapat jaketmu agar angin dingin sungkan menusuk kulitmu. Kita sama-sama mengikatkan tali sepatu dan menopang ransel di pundak kita masing-masing.

Siap. Kita pun beranjak pergi dan meninggalkan atap yang sama. Kau mengecup keningku dan aku membelai lembut pipimu. Kita saling memeluk, menghirup dalam-dalam aroma tubuh dan menyimpannya erat-erat untuk dijadikan sebagai bekal ketika rindu mulai menghadang.

Kita pergi. Kita melangkah.

Kau menuju Timur, dan aku bertolak ke Barat.

Aku ingin melangkah bersamamu. Tapi bukan berarti kita harus selalu berjalan beriringan dan saling bergenggaman tangan. Aku punya mimpi, kau juga. Dalam beberapa hal, kita punya mimpi besar yang sama, namun di sisi lain banyak sekali mimpiku dan kau yang jelas berbeda.

Sungguh, aku tidak pernah menyandarkan mimpiku padamu, namun akan lebih menantang jika kita mewujudkannya bersama dan tetap bertanggung jawab pada mimpi kita masing-masing. Namun, sayang, bersama nyatanya tidak selalu berarti dekat. Ratusan hingga ribuan mil pun kita masih tetap bisa bersama. Doalah yang mendekatkan kita.

Maka, mari kita melangkah bersama.

Kau menuju Timur, dan aku bertolak ke Barat.

Setelah mimpi itu kita genggam, temui aku di Selatan.

Dewi Rahayu Hambali, awal Maret menuju tengah malam.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s