Aku Cinta, Saat Hidup dan Matimu

Selamat ulang tahun, Bapak.

Hari ini harusnya hari ulang tahunmu. Tidak. Hari ini memang hari ulang tahunmu. Hari ketika seorang pria yang telah berhasil menjadi cinta pertamaku dilahirkan. Pria yang cintanya tak akan pernah tergantikan, cintanya tak akan pernah ada yang menyaingi. Pria yang sosok sepertinya tak akan pernah aku temukan lagi dalam diri orang lain. Pria yang aku cinta saat hidupnya, juga setelah matinya.

Pria itu…

Hari ini harusnya hari ulang tahunmu. Tidak. Hari ini memang hari ulang tahunmu. Namun, harusnya ibu memasak nasi kuning, ayam kecap, telur, dan sambal. Setelah selesai, kita menghidangkan makanan itu agar dapat dimakan bersama. Bapak dengan khidmat memimpin doa sebelum hidangan itu kita santap, sembari Bapak mengucap syukur karena masih diberi umur dan berkumpul dengan kita semua. Tak terlewat, Bapak bersyukur dengan wajah sumringah karena telah mengkhatamkan Al-quran tadi malam untuk kesekian kalinya. Bapak berdoa, dan kita mengaamiinkan doa-doa Bapak. Kita pun menjabat tangan Bapak sambil berdoa untuknya. Setelah itu kita memeluk Bapak seperti biasa. Dan harusnya Bapak tersenyum sambil menitikkan air mata. Harusnya kita mulai menyantap masakan ibu yang telah disiapkan sejak pagi. Harusnya kita makan sambil bersenda gurau bahagia. Harusnya Bapak menambah nasi karena saking nikmatnya, diikuti oleh ibu, aku, dan teteh. Harusnya kita menyelesaikan makan dengan mengucap syukur. Kemudian kita membereskan piring dan merapikan tempat kita makan barusan. Lalu ibu membagikan beberapa piring nasi kuning kepada beberapa tetangga dekat. Harusnya, tak lama Bapak minta diambilkan pisang kesukaannya sebagai cuci mulut. Harusnya kita kembali duduk berkumpul, menonton tayangan tinju yang tak pernah mau Bapak lewatkan. Harusnya kita tetap duduk di depan televisi menemani Bapak meskipun kita tak mengerti olahraga tinju.

Harusnya, hari ini aku kenyang menikmati senyummu yang tak habis-habis, ceria sepanjang hari, khusus hari ini lebih ceria dan bahagia.

Harusnya..

Harusnya.. harusnya..

Harusnya aku mengerti, semua itu hanya terjadi di tahun-tahun sebelum hari ini.  Harusnya aku tahu bahwa tahun kemarin adalah kali terakhir kita melakukan rutinitas tersebut. Harusnya aku sadar, bahwa hari ini dan tahun-tahun selanjutnya, hal tersebut tak akan pernah terulang. Harusnya aku mengerti, rutinitas itu harus diganti dengan doa sepanjang malam untukmu.

Harusnya aku mengerti..

Harusnya aku mengerti, tak ada lagi senyummu. Tak ada lagi pelukanmu. Tak ada lagi berkelakar denganmu. Tak akan ada lantunan ayat suci yang kaubacakan. Tak akan ada lagi nasehat dan dukungan darimu. Tak ada lagi duduk berdampingan denganmu. Tak ada lagi memijat kepalamu, tangan, hingga betis dan jari jemarimu. Tak ada lagi menyiapkan air hangat untuk mandimu. Tak ada lagi membuat teh manis untuk menemani tidurmu. Tak ada lagi memegang lenganmu, dan menuntunmu berjalan perlahan. Tak ada lagi mengecup keningmu. Tak ada lagi mencium tanganmu ketika aku berangkat dan pulang kuliah. Tak ada lagi mencuci dan menyetrika baju kesayanganmu.

Tak ada lagi dirimu di hadapanku..

Tak ada lagi…

Tak ada..

Aku pernah patah hati oleh seorang teman yang meninggalkanku. Namun itu tak ada apa-apanya dibandingkan patah hati karena ditinggalkan olehmu. Hatiku bukan hanya patah, melainkan hancur berkeping-keping. Seakan sendi-sendiku melemas dan tak berdaya. Seakan tulang-tulangku ikut retak perlahan. Seakan darah tak mengalir di otakku lagi, sebab aku tak bisa memikirkan apa-apa selain.. dirimu.

Hari ini aku benar-benar mengerti, mengapa rindu bisa begitu sangat indah sekaligus pedih. Kini aku benar-benar mengerti, ketika kau hadir di mimpiku merupakan hal yang paling membahagiakan dibanding apapun. Kini aku benar-benar mengerti, bagaimana sesaknya menyesali segala hal yang terlewatkan bersamamu.

Aku mengerti…

Bapak, selamat ulang tahun. Semoga amal-amalmu membuatmu panjang umur meskipun kau telah tiada. Semoga ketenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan menyelimutimu. Semoga semua dosa, kesalahan, dan khilafmu dengan ringan dan tanpa pertimbangan telah Allah ampuni. Semoga doa-doaku sampai padamu, kekasihku…

Lelaplah dalam tidur panjangmu.

Semoga, kita bertemu lagi.

Aku rindu, cinta, dan menyayangimu.

I love you, my man, my hero, my first love, my father..

Dewi Rahayu Hambali*

Senin, 18 Mei 2015

*kau harus tahu, aku sangat bangga menyandang namamu di nama belakangku.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s