Tenggelam di Lautan Langit

Judul buku :   Lautan Langit
Penulis :   Kurniawan Gunadi
Penerbit :  CV IDS
Tanggal terbit :   September 2015, Cetakan I
Kota :  Bogor
Tebal halaman :  xvi + 208 halaman
ISBN  :   978-602-72935-1-7

Lautan Langit.

Adalah buku kedua karya dari Kurniawan Gunadi atau yang lebih dikenal dengan sapaan Mas Gun. Setelah Hujan Matahari, anak kedua dari karyanya menjadi suatu yang dinanti-nanti oleh banyak penikmat tulisannya, termasuk saya. Saya merasa sangat beruntung dan bahagia mendapatkan Lautan Langit cetakan pertama sebagai hadiah ulang tahun. It would be one of my unforgettable gift.

Lautan Langit.

Seperti halnya Hujan Matahari, Lautan Langit berisi sekumpulan cerita syarat makna. Puluhan cerita dan prosa pendek dalam buku ini ditulis dengan mengangkat tema kehidupan, orang tua, alam, perjuangan, mimpi, dan tentu saja… cinta.

Untaian kalimat yang santun, manis, namun tegas memberikan nilai positif bagi buku ini. Ketika kita jenuh dengan novel yang berkata-kata kasar dan vulgar, tenggelamlah di Lautan Langit, kita akan memperoleh sesuatu yang lebih menenteramkan hati dan pikiran.

Lautan Langit sebagai buku kedua tampil dengan sampul glossy yang membuatnya menjadi lebih menarik. Gambar sampul sederhana namun tetap manis, didominasi oleh gradasi warna biru yang diikuti jingga dan putih yang menggambarkan lautan dan langit. Jenis huruf yang digunakan untuk setiap judul memberi daya tarik sendiri.

Sayangnya, pada cetakan pertama ini saya menemukan cukup banyak typographical error di beberapa tulisan, dan semoga untuk cetakan-cetakan berikutnya kesalahan pengetikan ini sudah berkurang bahkan benar-benar tidak terdapat lagi kesalahan pengetikan. Sederhana memang, namun bagi saya sebagai pembaca saya merasa cukup terganggu.

Buku ini dibagi ke dalam tiga bagian yang menunjukkan waktu: Pagi, Siang, dan Sore, yang mungkin menandakan kita dapat membacanya kapan saja dan di mana saja. Namun saya sendiri belum menemukan bagaimana sang Penulis mengklasifikasikan prosa dan cerpennya ke dalam tiga bagian/bab tersebut. Menurut saya, akan lebih baik lagi apabila setiap bab –Pagi, Siang, Sore—memiliki tema tersendiri, sehingga setiap tulisan dapat diklasifikasikan berdasarkan temanya masing-masing. Misalnya Pagi berisi prosa dan cerpen bertemakan keluarga dan orang tua, Siang berisi tulisan bertemakan Tuhan, perjuangan, dan mimpi, dan Sore berisi tulisan bertemakan Cinta. *just opinion* 🙂

Namun, secara keseluruhan Lautan Langit merupakan buku yang bagus dan dapat dikategorikan sebagai must-read-book. Maka dari itu, saya menyarankan buku ini untuk dibaca bagi banyak orang dengan  peran apa pun itu, baik itu anak, orang tua, maupun peran lainnya.

Teruntuk Mas Gun, terima kasih telah menulis tulisan yang begitu menginspirasi baik itu melalui Hujan Matahari, Lautan Langit, maupun melalui akun tumblr. Teruslah menulis dan menebarkan inspirasi serta kebaikan untuk lebih banyak orang lagi, saya dan banyak orang menunggu buku-buku selanjutnya. Barrakallah.

Ah iya, ini berikut ini kutipan yang paling saya suka dari Lautan Langit:

Hujan akan tetap turun meski ia dibenci karena ia datang bukan untuk mereka. Ia datang untuk orang-orang yang merindukan dan mencintainya. Hidup kita seperti demikian. Hari ini aku akan menjadi hujan, biar aku jatuh di hatimu dan kamu tidak bisa menghindarinya. (Gunadi, 2015: 144)

Harapan itu berada di langit-langit. Sementara semakin tinggi harapan, semakin disadari bahwa tempat bergantungku tiada lain hanya Tuhan. (Gunadi, 2015: 101)

 

Cimahi, 20 November 2015

Dewi Rahayu Hambali

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s