Tahun Ketiga

​Hari ini kita tiba di tahun ketiga semenjak pertemuan pertama kita dulu. Pertemuan pertama dengan suasana yang dingin dan kaku dariku namun hangat dan ramah darimu. Dari situlah pertemuan-pertemuan selanjutnya tercipta.

Di tahun ketiga ini rupanya banyak hal yang telah terjadi. Aku kini sedang menatapmu yang sedang tertidur pulas disampingku, suamiku. Baru hampir dua bulan lalu, kita berjanji di hadapan Allah untuk saling menjaga dalam ikatan suami istri, yang berarti orang pertama yang harus selalu aku utamakan adalah kamu, suamiku. Begitupun untukmu, tanggung jawabmu bertambah bukan hanya ibumu, kini ada aku sebagai istrimu dan kemudian anak-anak kita kelak. Peran baru yang tidak mudah, ya. Harusnya sih aku tidak perlu kaget, karena buku, artikel, orang tua, hingga kerabat yang telah menikah memang bilang begitu. Namun nyatanya aku baru benar-benar percaya setelah aku mulai menjalaninya.

Sebelum menikah pun aku tahu, bahwa kita sangat banyak perbedaan, ISFJ bertemu ENTP bukan hal yang mudah untuk dijalani. Namun, setelah menikah, perbedaan-perbedaan kita semakin kentara. Mulai dari preferensi dalam memilih makanan, minuman, jenis film, gaya berpakaian, pola pikir, cara menyampaikan kritik dan pendapat, hingga cara tidur pun kita berbeda. Perbedaan sekecil apa pun itulah yang bisa saja menjadi pemicu pertengkaran-pertengkaran kecil. Intinya aku harus lebih bersabar dan mengerti. Namun, kamu pasti yang kesabarannya harus ekstra dalam menghadapiku. Maaf yaa

Menjadi suami istri secara tidak langsung kita membandingkan pasangan dengan orang tua kita masing-masing. Kamu yang secara sadar atau tidak ingin aku menjadi istri yang ‘seperti ibumu’, begitupun aku yang secara sadar atau tidak ingin kamu menjadi suami yang dalam beberapa hal ‘seperti bapak’. Namun dua orang berbeda tidak mungkin menjadi orang persis sama, kan? Suatu hal yang berbeda bukan berarti salah satunya baik sedangkan yang satu lainnya buruk, bukan? Bisa saja keduanya itu baik namun menempuh kebaikan tersebut dengan cara berbeda.

Bulan dan tahun-tahun berikutnya mungkin ujian akan datang lebih banyak. Kita buktikan bahwa kita mampu, ya. Kita harus menggenggam dan memeluk lebih erat lagi, serta berdoa lebih ‘nyaring’ lagi agar kita dikuatkan dan dimampukan dalam segala hal. Aamiin.

Terima kasih ya, sudah mau lelah dan bekerja keras untukku. Kamu hebat, dan aku beruntung memilikimu. Maaf untuk berjuta kekuranganku sebagai istrimu, aku akan berusaha lebih semangat lagi.

I love you, Suami.
Jakarta, 14-02-17

Istri–

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s