Drupadi

Satu lagi karya Seno Gumira Ajidarma yang saya baca tahun ini, yaitu Drupadi. Awalnya penasaran dengan buku ini karena tema poliandris yang diangkat melalui sosok Drupadi. Kemudian saya semakin tertarik untuk mulai membacanya setelah mengikuti launching dan dialog langsung dengan penulisnya, Mas Seno.

Drupadi lagi-lagi ternyata bukan novel, melainkan kumpulan cerita yang memang semuanya menceritakan tentang Drupadi. Siapa itu Drupadi? Drupadi merupakan salah satu tokoh pewayangan yang terkenal dengan sosok poliandrisnya. Dewi Drupadi yang cantik tiada tara merupakan putri Prabu Drupada dari Kerajaan Pancala, menikahi kelima Pandawa dalam waktu yang bersamaan.

Jujur saya cukup asing dengan cerita pewayangan, hanya sedikit sekali tokoh wayang yang saya tahu. Sehingga ketika membaca buku ini, saya cukup kebingungan dengan silsilah tokoh yang cukup rumit.

Dari buku ini saya melihat sudut pandang lain dari seorang Drupadi yang berpoliandri, bagaimana ternyata begitu merasa sengsaranya Drupadi dengan menikahi kelima Pandawa. Drupadi harus rela berkorban untuk memperjuangkan haknya sebagai seorang wanita. Banyak sekali cobaan yang dihadapi Drupadi, mulai dari Drupadi yang diperkosa oleh 100 kurawa hingga kemudian ia harus diasingkan dan bersembunyi bersama para suaminya selama 12 tahun.

Sudut pandang baru dari Pandawa pun saya peroleh. Cukup kecewa dengan Pandawa yang ksatria, namun ketika Drupadi diperkosa oleh para kurawa mereka tak berkutik sedikit pun untuk menyelamatkan Drupadi, istrinya. Ego seorang laki-laki tergambar jelas dari sosok kelima Pandawa ini. But, he is just a human, so is Drupadi.

Berhubung ini bukan novel, pembaca menjadi tidak mendapatkan gambaran yang jelas mengenai bagaimana kehidupan keluarga Drupadi-Pandawa secara detail, mulai dari kehidupan seksnya, peran Drupadi sebagai istri untuk melayani kebutuhan para suaminya, kemudian bagaimana para suami membagi peran untuk seorang istri mereka.

Kisah pewayangan yang epik dan klasik ini ternyata masih menarik minat banyak pembaca di era millenial ini, dan menurut Mas Seno sendiri kisah pewayangan ini akan masih tetap berjaya hingga berpuluh tahun kemudian.

Good job, Mas Seno.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s