Tidak Ada Ibu yang Gagal

Setelah melahirkan tentu bahagianya luar biasa. Bisa menggenggam tangan mungil dan menatap wajahnya secara langsung setelah 38 minggu membuat penasaran dari dalam perut. Bahagia sekali rasanya. Sakitnya luka jahitan dan puting yang berdarah tetap dinikmati, karena ada si kecil yang menyemangati secara tidak langsung.

Menjadi seorang ibu tentu jadi pengalaman yang sangat berharga. Namun tentu saja tidak jarang muncul segala kecemasan dalam proses perawatan bayi. Ketika anak rewel, rasanya ingin menyalahkan diri sendiri yang mengira mungkin rewel karena ada yang sakit, mungkin aku salah gendongnya, mungkin ASIku kurang, mungkin anakku maunya begini tapi aku tidak mengerti. Dan berbagai kondisi yang ujung-ujungnya menyalahkan diri sendiri. Ditambah lagi sering munculnya komentar dari orang lain yang bilang, ini salah, ini harusnya tidak begitu. Sudah berusaha memberikan yang terbaik, tapi malah disalahkan. Makinlah aku merasa gagal dan belum bisa menjadi ibu yang baik untuk anakku.

Mungkin aku yang berlebihan dan terlalu bawa perasaan, jadinya baby blues berkepanjangan begini. Ibu baru lain mungkin tidak sepertiku.

Jika sudah begini, bawaannya jadi sedih seharian. ASI jadi benar-benar berkurang karena hormon oksitosin tidak terproduksi. Anak jadi tambah rewel karena mood ibunya mempengaruhi.

Astagfirullah, masa sudah jadi ibu masih seperti ini. Bilangnya sayang anak tapi malah bikin anak ikutan sedih.

Bismillah, mulai sekarang aku harus jadi ibu yang bermental baja, dan kadang penting juga untuk punya sikap bodo amat. Bukan berarti tidak menerima masukan, tapi menyaring hal-hal yang tidak seharusnya dimasukkan ke hati. Karena penting juga merawat hati sendiri, sebab anak punya hak juga untuk tumbuh dengan bahagia.

Terserah orang lain mau bilang apa, aku tetap ibu terbaik yang telah Allah pilihkan untuk anakku.

Semangat 🙂

___

Jakarta, 23 Mei 2018

Advertisements

Tahun Ketiga

​Hari ini kita tiba di tahun ketiga semenjak pertemuan pertama kita dulu. Pertemuan pertama dengan suasana yang dingin dan kaku dariku namun hangat dan ramah darimu. Dari situlah pertemuan-pertemuan selanjutnya tercipta.

Di tahun ketiga ini rupanya banyak hal yang telah terjadi. Aku kini sedang menatapmu yang sedang tertidur pulas disampingku, suamiku. Baru hampir dua bulan lalu, kita berjanji di hadapan Allah untuk saling menjaga dalam ikatan suami istri, yang berarti orang pertama yang harus selalu aku utamakan adalah kamu, suamiku. Begitupun untukmu, tanggung jawabmu bertambah bukan hanya ibumu, kini ada aku sebagai istrimu dan kemudian anak-anak kita kelak. Peran baru yang tidak mudah, ya. Harusnya sih aku tidak perlu kaget, karena buku, artikel, orang tua, hingga kerabat yang telah menikah memang bilang begitu. Namun nyatanya aku baru benar-benar percaya setelah aku mulai menjalaninya.

Sebelum menikah pun aku tahu, bahwa kita sangat banyak perbedaan, ISFJ bertemu ENTP bukan hal yang mudah untuk dijalani. Namun, setelah menikah, perbedaan-perbedaan kita semakin kentara. Mulai dari preferensi dalam memilih makanan, minuman, jenis film, gaya berpakaian, pola pikir, cara menyampaikan kritik dan pendapat, hingga cara tidur pun kita berbeda. Perbedaan sekecil apa pun itulah yang bisa saja menjadi pemicu pertengkaran-pertengkaran kecil. Intinya aku harus lebih bersabar dan mengerti. Namun, kamu pasti yang kesabarannya harus ekstra dalam menghadapiku. Maaf yaa

Menjadi suami istri secara tidak langsung kita membandingkan pasangan dengan orang tua kita masing-masing. Kamu yang secara sadar atau tidak ingin aku menjadi istri yang ‘seperti ibumu’, begitupun aku yang secara sadar atau tidak ingin kamu menjadi suami yang dalam beberapa hal ‘seperti bapak’. Namun dua orang berbeda tidak mungkin menjadi orang persis sama, kan? Suatu hal yang berbeda bukan berarti salah satunya baik sedangkan yang satu lainnya buruk, bukan? Bisa saja keduanya itu baik namun menempuh kebaikan tersebut dengan cara berbeda.

Bulan dan tahun-tahun berikutnya mungkin ujian akan datang lebih banyak. Kita buktikan bahwa kita mampu, ya. Kita harus menggenggam dan memeluk lebih erat lagi, serta berdoa lebih ‘nyaring’ lagi agar kita dikuatkan dan dimampukan dalam segala hal. Aamiin.

Terima kasih ya, sudah mau lelah dan bekerja keras untukku. Kamu hebat, dan aku beruntung memilikimu. Maaf untuk berjuta kekuranganku sebagai istrimu, aku akan berusaha lebih semangat lagi.

I love you, Suami.
Jakarta, 14-02-17

Istri–

Rindu Masa Kecil

Saat ini, rasanya ingin satu hari saja kembali menjadi aku yang berumur 5 tahun. Menjadi aku, yang bebas berlama-lama tidur di paha ibu. Makan pagi, siang, dan malam dengan masakan khas ibu, masakan kesukaanku di manapun aku akan berada. Menonton kuis dan serial tv atau mendengarkan alunan lagu dari saluran radio favorit bersama ibu. Membaca majalah Bobo atau komik Donald Duck ditemani ibu. Bermain lempar karet gelang berdua dengan ibu, meskipun aku selalu kalah tapi bermain dengan ibu tak pernah membuatku bosan.

Rasanya ingin satu hari saja kembali menjadi aku yang berumur 5 tahun. Menjadi aku, yang sepanjang hari dapat melihat wajah ibu yang entah mengapa selalu teduh dan menenangkan. Wajah ibu yang membuatku malas main keluar rumah, karena tidak ada yang lebih aman selain senyum ibu.

Kurindu.

Satu hari saja, ingin kembali menjadi gadis kecil yang hanya dimiliki ibu.

 

Jumat, 26 Agustus 2016
10:37 pm

Salam Rindu,
Anak Ibu

International Women’s Day: Sebuah Instropeksi

Selamat hari wanita internasional untuk wanita-wanita di seluruh dunia. Semoga hari ini kita semua bahagia, pun hari-hari selanjutnya.

Wanita  itu hebat, semua orang pun tahu. Namun sayangnya segelintir orang belum menyadari atau bahkan menutup-nutupi kehebatan wanita, hingga malah menjadikannya alas kaki.

Naas.

Namun kerasnya hidup justru akan membuat wanita lebih hebat, lebih tangguh, lebih kuat dari pria sekali pun.

Tidak, bukan berarti aku menganggap pria tidak lebih hebat dari wanita. Pria maupun wanita sama-sama hebat dengan perannya masing-masing, dengan caranya masing-masing.

Wanita yang menganggap dirinya kuat sekalipun tetap membutuhkan pria di sampingnya. Begitupun lelaki, sehebat apapun ia, tetap membutuhkan wanita di sisinya.

Bagaimana Hawa tanpa Adam? Lalu, adakah kita jika Tuhan tidak menciptakan Hawa untuk menemani Adam?

Bagi diriku sendiri, aku memaknai hari ini sebagai pemicuku untuk lebih semangat menjalani peran sebagai wanita. Tinggal berhitung bulan, peranku sebagai wanita akan bertambah menjadi seorang istri. Dari cerita-cerita yang aku dengar, bukan hal mudah menjalani peran sebagai seorang istri. Tentu banyak tantangan, tentu banyak tuntutan. Sehingga, aku harus belajar menjadi seorang istri dari sekarang.

Dan jika Tuhan berkehendak, mungkin tak lama setelah pernikahan aku harus segera belajar menjalani peran sebagai seorang ibu. Tentu saja, menjadi ibu berarti tugasku bertambah berkali-kali lipat, tanggung jawab akan semakin berat. Aku harus menjadi madrasah pertama bagi anak-anakku kelak, menjadi role model kebanggaan mereka, dan menjadi super multi talented mother for them.

However, being a wife and a mother are every woman highest calling.

And, I am ready, insyaa Allah.

Semoga, pria yang mendampingiku kelak adalah pria yang mengerti bahwa sekarang aku bukan wanita sempurna yang hebat dalam segala hal. Bahwa dalam hal mendampinginya, mungkin ada wanita lain yang jauh lebih hebat dariku.

Semoga ia mau mendampingiku memperbaiki diri dan belajar perlahan menjadi wanita seutuhnya, menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya.

Happy international women’s day, woman.

8 Maret 2016
Dewi Rahayu Hambali