Apa Kamu, Yakin?

Apa kamu yakin akan memilihku?
Sholatku tidak selalu di awal waktu
Tilawahku belum terlalu bagus, masih kadang terbata
Sholat sunnat yang kukerjakan hanya sedikit
Puasa sunnat hanya seingatnya kukerjakan

Apa kamu yakin aku dapat mendampingimu?
Masakan yang kubuat masih hambar
Teh yang kuseduh sering terlalu manis
Rumah yang kutata tidak terlalu bersih dan rapi
Tanaman yang kurawat tak berbunga apalagi berbuah

Apa kamu yakin aku perempuan yang kamu cari?
Wajahku standar dengan pipi menggembung
Mataku bulat dan kadang berkantung
Ketika kudiam, kamu hanya akan menemui raut wajahku yang muram
Ucapanku kadang sinis, rentan menyakitimu

Apa kamu yakin padaku?
Hal apa dalam diriku yang memikat hatimu?
Aku takut kamu terpikat sementara,
bosan, lalu menghilang seperti yang sudah-sudah
Aku takut tidak bisa mengimbangi arah pembicaraanmu
Aku takut segala ketakutan datang padaku

Jadi, apa kamu yakin?
Apa kamu,
y a k i n?

 

-12,01,16

Advertisements

Engkaulah keheningan yang hadir sebelum segala suara
Engkaulah lengang tempatku berpulang

Bunyimu adalah senyapmu
Tarianmu adalah gemingmu

Pada bisumu, bermuara segala jawaban
Dalam hadirmu, keabadian sayup mengecup

Saput batinku meluruh
Tatapmu sekilas dan sungguh
Bersama engkau, aku hanya kepala tanpa rencana
Telanjang tanpa kata-kata

Cuma kini
Tinggal sunyi

Dan, waktu perlahan mati

(catatan kecil saat langit kelabu di taman bambu)

Dewi ‘Dee’ Lestari dalam Supernova: Partikel, 2012

Ada Apa Dengan Cinta, 2014

Adalah cinta yang mengubah jalannya waktu
Karena cinta, Waktu terbagi dua
Dengan mu dan rindu
Untuk kembali ke masa (R)

Detik tidak pernah melangkah mundur,
tapi kertas putih itu selalu ada. (R)

Waktu tidak pernah berjalan mundur,
dan hari tidak pernah terulang.
Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru. (C)

Untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab. (R)

Love, Live, Life ….

Harus Bagaimana Aku Menunggumu?

Lalu, harus bagaimana lagi aku menunggumu?
Menari di jalanan basah,
melukis bulir embun,
atau menghitung daun gugur?

Harus bagaimana aku menunggumu?
Memeluk jaket,
mencumbu angin,
atau bergumul dengan lumpur?

Harus bagaimana aku menunggumu?
Bergurau bersama rintik air,
bernyanyi di balik awan gelap,
atau mendengkur bersama badai?

Harus bagaimana lagi aku menunggumu, kekasihku?
Telah kuhabiskan pagi sunyiku,
siang lengangku,
serta malam temaramku

Menantimu di persimpangan
Berharap kaudatang,
dan berkata “aku pulang, kekasihku
Kemudian kau memeluk dan merayu

Harus bagaimana lagi aku menunggumu, kekasihku?
Bahkan hujan pun tak membawakan pesan darimu,
begitupun angin,
dan langit muram itu

Kekasihku, sampai kapan persimpangan ini kujadikan batas harapan?
Haruskah hingga ku menua,
atau, barangkali mati?