Benteng Milikmu

Aku terus mencari tau, apa istimewanya kau hingga begitu terpikatnya aku. Aku mencintaimu, namun jujur aku belum mengenalmu terlalu jauh. Aku sibuk dengan perasaanku sendiri, dan kau sibuk membentengi dirimu sendiri. Aku terus memperhatikanmu dari jauh, namun benteng yang kaubuat semakin tinggi dari hari ke harinya. Aku kesulitan melihatmu, melihat apa yang kaututupi sebegitu rapatnya. Aku berhenti mencari tahu diam-diam. Kuberanikan diri bertanya pada si pembuat benteng itu. Singkat saja. Tidak ada apa-apa, katamu.

Aku berbalik badan, kecewa akan jawabanmu. Aku terus mencari cara agar dapat mengetahuinya. Maka kuputuskan mengendap-endap ke dekatmu. Bersembunyi rapat. Lalu, ketika kaulengah aku akan menyelinap memasuki benteng itu. Tibalah saat yang kunanti-nanti itu. Kaupergi dengan membiarkan pagar terbuka. Aku bergegas masuk. Kesempatan emas, kataku.

Akupun kini berada di balik benteng yang menjulang tinggi milikmu itu. Namun… Kosong? Tidak ada yang dapat kutemukan selain kekosongan. Aku berlari-lari, menyusuri bentengmu. Ah, mungkin saja kau menguburnya dalam-dalam. Namun, tidak ada. Aku berlari ke pagar. Takut kau cepat kembali. Aku tiba di pagar dan kutemukan kau berdiri di sana. Pandanganmu yang terakhir kali kulihat sangat dingin, kali ini berubah sangat hangat.

Sudah kubilang, tidak ada apa-apa disini, katamu. Aku merunduk, malu. Maaf, aku akan pergi sekarang, ucapku. Namun, ketika kaki bergetarku mulai kulangkahkan, kau tiba-tiba memelukku. Dari dekat sini aku dapat dengan jelas mencium wangimu. Dan dari jarak sedekat ini juga kurasa kau dapat dengan sangat jelas mendengar degup jantungku.

Tinggallah di sini, akan kuberi tahu apa yang sebenarnya ada di sini. Tinggallah di sini, selamanya. Aku sendirian di sini. Sepi. Aku butuh kau untuk menemani kekosongan ini. Maka, tinggallah di sini, selamanya.

Advertisements

Berita untuk Ayah

Perempuan itu berjalan cepat bahkan hampir berlari. Ia menggenggam erat sepucuk surat di tangannya. Tas ransel padat yang dipikul di pundak tak memperlambat langkahnya. Matanya berbinar, senyum di bibir tipisnya tak berhenti tersungging, pipinya merona merah muda serupa bunga. Ia semakin mempercepat langkahnya, tak sabar ingin segera tiba di rumah mungilnya. Ia tak sabar ingin membacakan isi surat tersebut di depan ayahnya. “Ayah, satu jalan telah terbentang di depanku. Mimpiku akan segera terwujud, mimpi kita, Ayah.” Ujarnya dalam hati.

Hanya membutuhkan beberapa langkah lagi untuk tiba di pagar rumah. Namun, langkahnya yang tadi berburu cepat seketika terhenti. “Ada apa ini?”. Sebuah mobil ambulans terparkir tepat di depan halaman rumahnya. Beberapa orang tetangga tampak berkerumun di depan rumah, dan beberapa lagi tampak mondar-mandir masuk ke dalam rumahnya. Saat kebingungan menderanya, tiba-tiba salah satu tetangga menghampirinya dengan setengah berlari.

“De, tadi ayahmu tidak sadarkan diri. Maaf tidak segera menghubungimu, kami terlalu panik sehingga langsung memanggil ambulans.”

Seketika kakinya gemetar dan lunglai. Perlahan ia menyeret kakinya untuk menghampiri ayahnya yang ditandu oleh beberapa tetangga untuk dimasukkan ke dalam ambulans. Matanya nanar, tanpa aba-aba air menggenanginya. Bibirnya bergetar. Kertas yang ia genggam erat perlahan jatuh terhempas begitu saja di atas rerumputan basah sehabis hujan.

Ayah…

~~

Salman Reading Corner, 13 Desember 2014

Telaga Senja

 

danau

Aku berdiri di tepi telaga yang hijau entah biru dengan senja kemerahan di atasnya. Disemiliri angin dingin yang menusuk. Diterpa dedaunan gugur yang menguning. Lalu aku menirukan bunyi burung-burung kecil yang bercicit riang. Hingga aku menemukan nada sendiri untuk menyanyikan lagu tentang.. kamu.

Cukup lama aku menikmati telaga hijau entah biru yang dibalut jingga senja. Dipeluk kesunyian yang damai. Sambil sesekali membenarkan hijabku yang goyah disentuh angin sore itu. Berdiri dengan pandangan kosong padahal tidak, menyaksikan air yang sangat tenang tak seperti pikiranku saat ini. Kemudian aku duduk di bangku kayu yang terlihat rapuh namun masih kuat menahanku. Aku duduk di sebelah kiri, dan di kananku, ah bukan kamu, melainkan tak ada siapa-siapa selain sebatang pena dan buku yang nyaris dipenuhi namamu.

Kicau burung semakin berpadu dengan semesta. Tanganku mulai lelah menulis. Dan kinilah saatnya aku bercerita dengan suara yang tak terdengar oleh angin sekalipun. Membisikkan semua hal yang mengganjal di hati dan memutar ulang semua rekaman-rekaman di otak. Sesekali aku tersenyum mengenangnya. Namun, perlahan telaga itu semakin bening dan berpindah ke mataku. Berganti menjadi bulir mutiara yang berjatuhan. Ah, aku terlalu menghayati kenangan ini.

Senja semakin malu menampakkan cantiknya, ia perlahan menghilang. Pergi meninggalkanku. Sendiri. Saatnya aku pulang membawa perasaan yang lebih ringan. Bangku kayu itu berderit ketika aku mulai berdiri. Dedaunan gugur kembali beterbangan jatuh dari pangkuanku. Kutatap lekat-lekat telaga yang mulai gelap, sembari kuseka bekas tetesan air di pipiku. Aku harus pulang. Esok pagi upacara pernikahanmu, dan mataku tak boleh terlihat sembab. Wajahku tak boleh terlihat sendu. Aku harus nampak cerah secerah hatimu besok, harus bahagia. Ya, setidak-tidaknya aku bisa berpura-pura bahagia.

“Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan rahasia, lalu meneteskan air mata.” (Soekarno, 1933)

 

Sumber gambar: semakstrawberry.blogspot.com

Atap Gedung Romantis (Revisi)

lilinSumber gambar: www.ariefgusti.co.vu

Langit kemerahan di kota ini perlahan-lahan datang. Senja tergelincir dari rengkuhan sang bidadari. Entah mengapa, senja kali ini jauh lebih cantik dari biasanya. Sepertinya senja pun tak sabar menyambut malam, meski malam yang akan membunuhnya.

Sabtu malam ini akan sangat mendebarkan bagi Dimas. Ia memberanikan diri untuk meminta Dien menjadi kekasihnya. Meskipun gugup, ia sangat yakin Dien akan menerima cintanya. Selama 4 tahun mengenal Dien, Dimas tahu bahwa Dien menyenangi segala hal berbau romantis. Ia pun yakin, malam ini akan menjadi hal paling romantis yang pernah Dien dapati dalam hidupnya. Atap gedung ini ia pilih karena view kota terbaik dapat ditemui dari atas sini. Selain itu, bila hal buruk terjadi, yaitu Dien menolaknya, ia dapat dengan mudah mengancam Dien bahwa ia akan loncat dari ketinggian 30 lantai ini. Tentu saja Dien tidak akan tega, sehingga pada akhirnya Dien akan menerima Dimas menjadi kekasihnya.

Selama seminggu terakhir, Dimas dibantu oleh beberapa orang temannya, bekerja keras mempersiapkan segala sesuatu untuk malam ini. Gajinya yang lebih besar sedikit dari UMR, rela ia keluarkan untuk menyewa atap gedung dan membeli semua yang dibutuhkan. Puluhan tangkai dan satu bucket besar mawar merah telah ia siapkan. Ratusan lilin telah ia susun sedemikian rupa, sehingga lilin-lilin itu berjejer rapi dari tangga hingga membentuk hati mengeliling meja makan. Kemudian, lampion warna-warni telah digantungkan di tengah dan sudut-sudut ruangan.

Arloji di tangan Dimas menunjukkan pukul 19.00, artinya satu jam lagi Dien akan datang. Untuk kesekian kalinya ia mengelilingi tempat itu untuk memastikan bahwa semuanya sempurna. Para pemain musik telah berada di sayap kanan ruangan sambil terus berlatih atas kemauan Dimas. Makanan pun hampir siap dihidangkan oleh Chef Duma, teman SMA-nya yang telah 5 tahun menjadi koki di Hotel Indonesia. Continue reading