Yang Hilang Sewaktuwaktu

Karena aku mencintai yang sewaktu-waktu pergi, yang sewaktu-waktu diambil. Aku belajar bagaimana caranya melepaskan. Aku belajar bagaimana menyikapi kepergian.
Aku belajar mengosongkan diri dari apapun yang memenuhi. Hingga setiap ruang dalam hati terasa lebih lapang dari biasanya. Lalu mengisinya lagi dengan lebih tertata dan bijaksana.
Karena aku mencintai yang sewaktu-waktu mati, yang sewaktu-waktu harus hilang. Aku belajar tentang kesendirian. Betapa hidup dalam diri sendiri begitu meresahkan.
Aku belajar bagaimana membuat hari-hari terasa lebih lapang. Selalu siap dengan kehilangan. Selalu siap dengan kepergian. Sebab aku, sejatinya, tidak pernah memiliki apa-apa. Tuhan hanya menitipkanmu untuk aku cintai.
Aku khawatir bila aku mencintaimu tidak dengan petunjuk-Nya. Aku takut ketika mencintaimu justru mengundang murka-Nya. Aku sudah berusaha sebaik-baiknya menjaga diri.

sumber:

Advertisements

Dekat

Di atas semua keinginan dan kehendakku, aku mempercayakan semuanya pada pilihan-Mu: Dan semoga semua perasaan baik-baik saja.

.. Di atas semua cerita, jodoh bukan cuma soal perasaan.

Semoga Tuhan menyembuhkan semua hati yang terluka.

Via (caramelmacchiato):

 

Aku Adalah Udara Tanpa Arah

dyazafryan

Kemana udara-udara yang bernapaskan rindu itu akan berlabuh?

Masihkah ia tanpa arah?

Dan kamu tetap terdiam di titik gelapmu.

Di atas tanah yang mengunci langkahmu.

Dengan rantai-rantai kuat yang menancap di tanah gersang itu, seperti hatimu.

Mata air yang pernah jadi tempatmu menangis,

Kini kering kerontang.

Tak ada lagi yang ingin bermuara di ujungnya.

Tak ada lagi yang ingin menitipkan rasa pada daun yang jatuh di atasnya.

Yang ada hanya debu dari abu sepimu,

Terbakar lewat api sisa-sisa amarahmu.

Merah menyala, menghapus biru dari bola matamu.

dan benci membawanya pergi.

Memang tak ada lagi rindu di duniamu.

Dan aku adalah udara yang tanpa arah.

#PuisiHore3 #4Elemen

_dyazafryan

View original post

Hujan (tak pernah sama)

Pojok Biru

image

Kemarin gerimis menyapa keringnya rasa. Aku terduduk tersenyum mengingat aku yang tak boleh mengenangnya, mengingat kemarau panjang yang mendera sejak awan berarak dari tempatku berpijak, membawa serta pula hujan yang dulu pernah menjadi teman baikku. Ya, kemarin gerimis menyapa tanah yang kini kering. Meski dalam mimpi singkat di malam hari.
Kemarin, gerimis kembali menyapa keringnya rasa. Aku susah payah menarik lagi logikaku yang melumpuh. Kalau saja awan tak berarak, kalau saja tanah ini masih subur oleh hujanmu, kalau saja.., kalau saja.., kalau saja hujan masih setia di tanah ini. Ah, mungkin tanah ini tak akan sekering ini.

View original post 160 more words