Dolanan ke Malang

Aku yang dari kecil tinggal di daerah sejuk, meskipun belakangan ini cukup panas juga, menjadi lebih terbiasa dan nyaman dengan daerah-daerah yang sejuk dan dingin. Jadi, untuk opsi tempat liburan pun aku cenderung memilih tempat yang agak jauh dari cuaca panas. Kebetulan beberapa hari lalu suami punya kesempatan untuk cuti, maka kami memutuskan pergi ke Malang untuk berlibur sejenak.

Jujur saja trip kali ini belum kami rencanakan dengan sangat matang dari jauh hari terutama dalam hal budget financialnya, agak mendadak sehingga kami harus mengatur bagaimana caranya trip bisa berlangsung dengan baik sesuai budget yang dimiliki. Maka, kami berusaha menekan seminimal mungkin biaya transport dan penginapan.

Budget yang terbatas tentu mengharuskan kami cermat dalam menentukan akomodasi perjalanan, salah satunya yaitu penginapan. Malam pertama kami putuskan menginap di Batu, sedangkan malam kedua kami menginap di Malang. Berikut reviewnya: Continue reading

Critical Eleven

Saya baca buku ini karena tertarik dengan judul, cover, dan sinopsis singkat di sampul belakang. Belum lagi buku ini tidak lama akan difilmkan yang dibintangi oleh Reza Rahadian dan Adinia Wirasti (oke, skip). Akhirnya selama saya baca buku ini, saya tunggu-tunggu mana lagi nih cerita tentang 11 menit kritis di pesawatnya? Ternyata cuma diceritakan di awal saja saat pertemuan Anya dan Alle, dan sebagian besar berlatarkan di rumah. Oh, under expectation.

Jadi begini, novel ini menceritakan Anya dan Alle yang bertemu di pesawat hingga singkat cerita mereka berjodoh dan menikah. Anya dan Alle digambarkan sebagai pasangan sempurna dan idaman siapapun lah, bagaimana tidak mereka berdua kaya, cantik dan ganteng, karir cemerlang, romantis, dan kesempurnaan lainnya. Konflik baru terjadi, ketika bayi yang Anya kandung 9 bulan meninggal dalam kandungan. Satu kalimat sederhana Alle yang terkesan menyalahkan Anya lah yang jadi pemicu konflik. Hingga Anya marah dan tidak mau bicara ke suaminya sampai berbulan-bulan.

Tapi, jika dipikir-pikir, apa yang Alle bilang tidak ada salahnya juga. Toh, kodrat istri bukan untuk bekerja banting tulang apalagi hanya untuk mengikuti gaya hidup yang high class, ditambah lagi Alle kan sudah jadi penambang minyak di Texas, mungkin uangnya sudah tidak tertampung di bank lagi. Buktinya, kekayaan tidak bisa mengembalikan anak yang sudah meninggal, kan? Ah, tapi mungkin Anya tidak mengerti ini.

Menurut saya konfliknya cuma satu: bukan Alle yang salah bicara tapi Anya yang terlalu sensitif, namun dramatisasinya luar biasa hingga novelnya tebal begini. Tapi untung saja penulisan ceritanya ringan juga tidak memberatkan pembaca hanya dengan konflik seperti itu.

Ini novel Ika Natassa pertama yang saya selesaikan sampai habis, setelah sebelumnya Antologi Rasa yang tidak selesai.

So, semoga filmnya sukses dan bahkan jauh lebih baik dari novelnya.

Regards.

Angan Senja ∞ Senyum Pagi: To The Infinity

Hidup tetap indah, kok, meski kita tidak bisa menyelesaikan hitungan-hitungan Matematika. Sebab hidup jadi indah karena kita tak selalu dapat memperhitungkannya, kan? Banyak hal dalam hidup ini nggak bisa dihitung. Cinta, persahabatan, misalnya. Perasaan manusia punya ketakterbatasan yang tidak bisa dimatematikakan. Infinity.

Begitu, salah satu kutipan favorit saya dari buku ini. Satu lagi karya baru dari Fahd Pahdepie yang kali ini mengangkat cerita tentang Angan Senja dan Senyum Pagi. Apa itu? Angan Senja dan Senyum Pagi merupakan tokoh utama dari novel ini. Unik sekali memang nama-nama tokoh di dalam ceritanya.

Angan Senja merupakan seorang akuntan sukses yang telah memiliki perusahaan terkemuka di Jakarta. Berkat kecerdasannya, ia berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya di Amerika dan London. Angan sangat menyenangi dan ahli di bidang Matematika. Beberapa olimpiade berhasil dimenangkannya saat SMA. Hingga akhirnya ia punya kesempatan emas untuk melakukan pertukaran pelajar ke Amerika. Kehidupan tampaknya sudah sempurna bagi Angan, kecerdasan, karir dan kekayaan sudah ada di genggamannya. Namun ada dua hal: cinta dan kebahagiaan, ia tidak memilikinya. Di usia kepala 3 ini ia belum bisa menemukan pendamping hidupnya. Karena rupanya Angan Senja tak pernah berhenti menanti Senyum Pagi.

Senyum Pagi adalah seorang single mother yang hidup berdua dengan Embun, anak perempuannya. Pagi adalah seorang perempuan cantik dan sangat bersemangat, yang rupanya kakak kelas Angan sewaktu SMA di Semarang. Pagi sangat menyenangi musik. Ia tahu musik bagus sejak dari nada pertamanya. Ia tahu lagu bagus bahkan sebelum liriknya dinyanyikan.

Karena suatu kebetulan (atau mungkin takdir), Pagi bertemu dengan Angan di suatu tempat rahasia di sekolah saat mereka sama-sama bolos dari kelas, yang kemudian mereka namai markas. Berawal dari situlah, kedekatan antara mereka berdua terjalin. Kedekatan itu rupanya menjadi bahan perbincangan satu sekolah, bagaimana bisa Pagi yang populer bisa dekat dengan Angan yang kutu buku itu. Namun Angan dan Pagi tidak memedulikan perkataan mereka, pertemanan terjalin semakin erat, hingga akhirnya muncul perasaan yang tidak sempat mereka jelaskan. Namun, setiap pertemuan memiliki kisah perpisahannya sendiri. Mereka berpisah, tanpa sempat menjelaskan apa-apa. Apakah Matematika dan Musik terlalu berbeda hingga tak bisa bersatu?

Takdir kembali mempertemukan mereka setelah 17 tahun perpisahan tanpa kabar. Penyesalan muncul di hati mereka masing-masing karena rupanya semua sudah terlambat, kondisi di 17 tahun kemudian ini benar-benar sudah berbeda, meski Angan tak pernah sedikit pun melupakan Pagi yang sudah tinggal di inti memorinya, begitupun Pagi yang selalu mengangankan Angan. Tapi, kereta waktu tak pernah menunggu penumpang yang ragu, bukan?

Jika diibaratkan sebagai musik, novel ini merupakan musik lirih lagi sendu. Kisah cintanya manis dan tidak kekanak-kanakan. Meskipun lirih, namun kalimat di novel ini tidak ditulis mendayu-mendayu, kalimatnya ringan dan mengalir begitu saja. Hanya beberapa saja kalimat puitis di sini, dan itu berhasil menjadi pemanis kisah Angan dan Pagi.

Banyak hal positif yang dapat diambil dari cerita ini, salah satunya bahwa benar hidup ini tetap indah karena tidak semua hal kita dapat memperhitungkannya. Selain itu, Angan dan Pagi merupakan sosok yang dewasa dan meskipun mereka tahu bahwa mereka saling cinta, namun mereka tidak memaksakan cinta mereka di keadaan yang sudah tidak memungkinkan itu. Pada akhirnya mesti ada satu atau beberapa pihak yang harus berkorban demi kebahagiaan orang lain, hal ini yang membuat saya merasa ending-nya terlalu drama.

Tapi secara keseluruhan, cerita yang katanya diselesaikan dalam waktu satu bulan ini benar-benar tidak mengecewakan. Selain judulnya yang unik, ditambah lagi cover buku yang benar-benar keren dan artsy. Lukisan karya Leonid Afremov yang menjadi cover buku ini bisa jadi menjadi salah satu faktor mengapa buku ini memikat banyak pembaca di cetakan pertamanya.

Selamat merayakan ketakterbatasan. Infinity.

Drupadi

Satu lagi karya Seno Gumira Ajidarma yang saya baca tahun ini, yaitu Drupadi. Awalnya penasaran dengan buku ini karena tema poliandris yang diangkat melalui sosok Drupadi. Kemudian saya semakin tertarik untuk mulai membacanya setelah mengikuti launching dan dialog langsung dengan penulisnya, Mas Seno.

Drupadi lagi-lagi ternyata bukan novel, melainkan kumpulan cerita yang memang semuanya menceritakan tentang Drupadi. Siapa itu Drupadi? Drupadi merupakan salah satu tokoh pewayangan yang terkenal dengan sosok poliandrisnya. Dewi Drupadi yang cantik tiada tara merupakan putri Prabu Drupada dari Kerajaan Pancala, menikahi kelima Pandawa dalam waktu yang bersamaan.

Jujur saya cukup asing dengan cerita pewayangan, hanya sedikit sekali tokoh wayang yang saya tahu. Sehingga ketika membaca buku ini, saya cukup kebingungan dengan silsilah tokoh yang cukup rumit.

Dari buku ini saya melihat sudut pandang lain dari seorang Drupadi yang berpoliandri, bagaimana ternyata begitu merasa sengsaranya Drupadi dengan menikahi kelima Pandawa. Drupadi harus rela berkorban untuk memperjuangkan haknya sebagai seorang wanita. Banyak sekali cobaan yang dihadapi Drupadi, mulai dari Drupadi yang diperkosa oleh 100 kurawa hingga kemudian ia harus diasingkan dan bersembunyi bersama para suaminya selama 12 tahun.

Sudut pandang baru dari Pandawa pun saya peroleh. Cukup kecewa dengan Pandawa yang ksatria, namun ketika Drupadi diperkosa oleh para kurawa mereka tak berkutik sedikit pun untuk menyelamatkan Drupadi, istrinya. Ego seorang laki-laki tergambar jelas dari sosok kelima Pandawa ini. But, he is just a human, so is Drupadi.

Berhubung ini bukan novel, pembaca menjadi tidak mendapatkan gambaran yang jelas mengenai bagaimana kehidupan keluarga Drupadi-Pandawa secara detail, mulai dari kehidupan seksnya, peran Drupadi sebagai istri untuk melayani kebutuhan para suaminya, kemudian bagaimana para suami membagi peran untuk seorang istri mereka.

Kisah pewayangan yang epik dan klasik ini ternyata masih menarik minat banyak pembaca di era millenial ini, dan menurut Mas Seno sendiri kisah pewayangan ini akan masih tetap berjaya hingga berpuluh tahun kemudian.

Good job, Mas Seno.