Harus Bagaimana Aku Menunggumu?

Lalu, harus bagaimana lagi aku menunggumu?
Menari di jalanan basah,
melukis bulir embun,
atau menghitung daun gugur?

Harus bagaimana aku menunggumu?
Memeluk jaket,
mencumbu angin,
atau bergumul dengan lumpur?

Harus bagaimana aku menunggumu?
Bergurau bersama rintik air,
bernyanyi di balik awan gelap,
atau mendengkur bersama badai?

Harus bagaimana lagi aku menunggumu, kekasihku?
Telah kuhabiskan pagi sunyiku,
siang lengangku,
serta malam temaramku

Menantimu di persimpangan
Berharap kaudatang,
dan berkata “aku pulang, kekasihku
Kemudian kau memeluk dan merayu

Harus bagaimana lagi aku menunggumu, kekasihku?
Bahkan hujan pun tak membawakan pesan darimu,
begitupun angin,
dan langit muram itu

Kekasihku, sampai kapan persimpangan ini kujadikan batas harapan?
Haruskah hingga ku menua,
atau, barangkali mati?

Advertisements

Telaga Senja

 

danau

Aku berdiri di tepi telaga yang hijau entah biru dengan senja kemerahan di atasnya. Disemiliri angin dingin yang menusuk. Diterpa dedaunan gugur yang menguning. Lalu aku menirukan bunyi burung-burung kecil yang bercicit riang. Hingga aku menemukan nada sendiri untuk menyanyikan lagu tentang.. kamu.

Cukup lama aku menikmati telaga hijau entah biru yang dibalut jingga senja. Dipeluk kesunyian yang damai. Sambil sesekali membenarkan hijabku yang goyah disentuh angin sore itu. Berdiri dengan pandangan kosong padahal tidak, menyaksikan air yang sangat tenang tak seperti pikiranku saat ini. Kemudian aku duduk di bangku kayu yang terlihat rapuh namun masih kuat menahanku. Aku duduk di sebelah kiri, dan di kananku, ah bukan kamu, melainkan tak ada siapa-siapa selain sebatang pena dan buku yang nyaris dipenuhi namamu.

Kicau burung semakin berpadu dengan semesta. Tanganku mulai lelah menulis. Dan kinilah saatnya aku bercerita dengan suara yang tak terdengar oleh angin sekalipun. Membisikkan semua hal yang mengganjal di hati dan memutar ulang semua rekaman-rekaman di otak. Sesekali aku tersenyum mengenangnya. Namun, perlahan telaga itu semakin bening dan berpindah ke mataku. Berganti menjadi bulir mutiara yang berjatuhan. Ah, aku terlalu menghayati kenangan ini.

Senja semakin malu menampakkan cantiknya, ia perlahan menghilang. Pergi meninggalkanku. Sendiri. Saatnya aku pulang membawa perasaan yang lebih ringan. Bangku kayu itu berderit ketika aku mulai berdiri. Dedaunan gugur kembali beterbangan jatuh dari pangkuanku. Kutatap lekat-lekat telaga yang mulai gelap, sembari kuseka bekas tetesan air di pipiku. Aku harus pulang. Esok pagi upacara pernikahanmu, dan mataku tak boleh terlihat sembab. Wajahku tak boleh terlihat sendu. Aku harus nampak cerah secerah hatimu besok, harus bahagia. Ya, setidak-tidaknya aku bisa berpura-pura bahagia.

“Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan rahasia, lalu meneteskan air mata.” (Soekarno, 1933)

 

Sumber gambar: semakstrawberry.blogspot.com