Senja, Aku Jatuh Cinta

Senja kembali menyapa
tanpa permisi membuatku jatuh cinta pada indah jinggamu
Senja pelan berganti malam
jangan pergi, boleh?
Jelaskan padaku, mengapa kauhadir di antara siang dan malam?
menawarkan kilau, membuatku terpukau
Jelaskan maksudmu, mengapa waktu terlalu singkat?
menyisakan kilau, dan ku masih terpukau
Senja, tunggu
      : aku, j a t u h  c i n t a.

Advertisements

Jatuh Itu Cuma Prolog

Aku sedang jatuh. Semua yang dilakukan terkesan selalu salah. Bukan salah orang-orang di sekitar, melainkan murni kesalahanku. Kecerobohan.
Dalam kejatuhan ini, aku tidak berminat mengeluhkannya ke seluruh dunia. Buat apa? Aku tidak yakin mereka dapat membantuku. Jadi, ya sudahlah. Seperti biasa aku genggam sendiri. Aku menulis di sini pun bukan bermaksud dunia membacanya. Sudah kubilang, kan? Menulis adalah terapi bagi hati yang tengah susah ini.

Kadang aku ingin tertawa kencang. Dunia ini terlalu lucu. Hasil pencapaian yang menurutku rendah, membuatku merasa langit runtuh. Perasaan bersalah pada orang tua, merasa dosa pada Tuhan karena usahaku (mungkin) masih sangat kurang. Sedangkan orang lain yang hasilnya sama atau bahkan lebih rendah, masih bisa-bisanya bersenandung riang. Lucu sekali, bukan?

Proses dan hasil. Klasik sekali. Mengunggulkan proses, tapi tetap hasil akhir yang dilirik. Padahal aku sangat mencintai subject ini, aku tak pernah mengeluhkannya seperti yang lain, tak pernah muncul niat melewatkannya sekali pun, dan jauh sekali dari kata membenci. Tapi…

Pada akhirnya aku hanya bisa bersyukur dengan hasil ini agar aku bisa bersyukur dengan hasil yang besar. Jatuh hanya menjadi prolog. Karena di bagian epilog ini aku telah bermetamorfosis menjadi sosok yang siap bangkit dan berjuang. Kini, aku hanya minta campur tangan dari-Mu, karena tidak mudah untuk aku urusi sendiri. Dan aku mengharapkan keberkahan dan balasan dari-Mu saja sebagai ganti ucapan terima kasih dari mereka yang terlewat.

Terima kasih, aku telah belajar lebih dari kesalahan.