Angan Senja ∞ Senyum Pagi: To The Infinity

Hidup tetap indah, kok, meski kita tidak bisa menyelesaikan hitungan-hitungan Matematika. Sebab hidup jadi indah karena kita tak selalu dapat memperhitungkannya, kan? Banyak hal dalam hidup ini nggak bisa dihitung. Cinta, persahabatan, misalnya. Perasaan manusia punya ketakterbatasan yang tidak bisa dimatematikakan. Infinity.

Begitu, salah satu kutipan favorit saya dari buku ini. Satu lagi karya baru dari Fahd Pahdepie yang kali ini mengangkat cerita tentang Angan Senja dan Senyum Pagi. Apa itu? Angan Senja dan Senyum Pagi merupakan tokoh utama dari novel ini. Unik sekali memang nama-nama tokoh di dalam ceritanya.

Angan Senja merupakan seorang akuntan sukses yang telah memiliki perusahaan terkemuka di Jakarta. Berkat kecerdasannya, ia berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya di Amerika dan London. Angan sangat menyenangi dan ahli di bidang Matematika. Beberapa olimpiade berhasil dimenangkannya saat SMA. Hingga akhirnya ia punya kesempatan emas untuk melakukan pertukaran pelajar ke Amerika. Kehidupan tampaknya sudah sempurna bagi Angan, kecerdasan, karir dan kekayaan sudah ada di genggamannya. Namun ada dua hal: cinta dan kebahagiaan, ia tidak memilikinya. Di usia kepala 3 ini ia belum bisa menemukan pendamping hidupnya. Karena rupanya Angan Senja tak pernah berhenti menanti Senyum Pagi.

Senyum Pagi adalah seorang single mother yang hidup berdua dengan Embun, anak perempuannya. Pagi adalah seorang perempuan cantik dan sangat bersemangat, yang rupanya kakak kelas Angan sewaktu SMA di Semarang. Pagi sangat menyenangi musik. Ia tahu musik bagus sejak dari nada pertamanya. Ia tahu lagu bagus bahkan sebelum liriknya dinyanyikan.

Karena suatu kebetulan (atau mungkin takdir), Pagi bertemu dengan Angan di suatu tempat rahasia di sekolah saat mereka sama-sama bolos dari kelas, yang kemudian mereka namai markas. Berawal dari situlah, kedekatan antara mereka berdua terjalin. Kedekatan itu rupanya menjadi bahan perbincangan satu sekolah, bagaimana bisa Pagi yang populer bisa dekat dengan Angan yang kutu buku itu. Namun Angan dan Pagi tidak memedulikan perkataan mereka, pertemanan terjalin semakin erat, hingga akhirnya muncul perasaan yang tidak sempat mereka jelaskan. Namun, setiap pertemuan memiliki kisah perpisahannya sendiri. Mereka berpisah, tanpa sempat menjelaskan apa-apa. Apakah Matematika dan Musik terlalu berbeda hingga tak bisa bersatu?

Takdir kembali mempertemukan mereka setelah 17 tahun perpisahan tanpa kabar. Penyesalan muncul di hati mereka masing-masing karena rupanya semua sudah terlambat, kondisi di 17 tahun kemudian ini benar-benar sudah berbeda, meski Angan tak pernah sedikit pun melupakan Pagi yang sudah tinggal di inti memorinya, begitupun Pagi yang selalu mengangankan Angan. Tapi, kereta waktu tak pernah menunggu penumpang yang ragu, bukan?

Jika diibaratkan sebagai musik, novel ini merupakan musik lirih lagi sendu. Kisah cintanya manis dan tidak kekanak-kanakan. Meskipun lirih, namun kalimat di novel ini tidak ditulis mendayu-mendayu, kalimatnya ringan dan mengalir begitu saja. Hanya beberapa saja kalimat puitis di sini, dan itu berhasil menjadi pemanis kisah Angan dan Pagi.

Banyak hal positif yang dapat diambil dari cerita ini, salah satunya bahwa benar hidup ini tetap indah karena tidak semua hal kita dapat memperhitungkannya. Selain itu, Angan dan Pagi merupakan sosok yang dewasa dan meskipun mereka tahu bahwa mereka saling cinta, namun mereka tidak memaksakan cinta mereka di keadaan yang sudah tidak memungkinkan itu. Pada akhirnya mesti ada satu atau beberapa pihak yang harus berkorban demi kebahagiaan orang lain, hal ini yang membuat saya merasa ending-nya terlalu drama.

Tapi secara keseluruhan, cerita yang katanya diselesaikan dalam waktu satu bulan ini benar-benar tidak mengecewakan. Selain judulnya yang unik, ditambah lagi cover buku yang benar-benar keren dan artsy. Lukisan karya Leonid Afremov yang menjadi cover buku ini bisa jadi menjadi salah satu faktor mengapa buku ini memikat banyak pembaca di cetakan pertamanya.

Selamat merayakan ketakterbatasan. Infinity.

Advertisements

Review: Sepotong Senja untuk Pacarku

Sepotong senja untuk pacarku merupakan sebuah novel karya penulis senior Seno Gumira Ajidarma. Sebenarnya ini bukan novel melainkan kumpulan cerita yang dibagi menjadi 3 bagian, dan semua bagiannya terdiri dari beberapa cerita yang menceritakan tentang senja.

Bagian yang paling disukai oleh saya dan mungkin oleh sebagian banyak orang yaitu bagian Trilogi Alina. Cerita tentang bagaimana Sukab begitu mencintai Alina dan ingin mengirim sepotong senja untuk pacarnya, Alina, yang sangat menyukai senja itu. Sukab mengkerat senja terindah yang ia temui menjadi seukuran kartu pos kemudian ia masukkan ke kantong bajunya untuk kemudian akan dikirimkan kepada Alina melalui jasa tukang pos. Sukab menjadi kejaran banyak orang karena dituduh telah menjadi pencuri senja. Namun demi Alina, ia rela.

Namun nyatanya, apa yang dibayangkan Sukab meleset. Alina baru menerima senja yang Sukab kirimkan setelah sepuluh tahun kemudian. Hal ini dikarenakan tukang pos pengantar senja untuk Alina rupanya terlalu penasaran dengan amplop yang memancarkan semburat merah keemas-emasan yang begitu menyala dari sepanjang perjalanan. Ia tidak tahan lagi, lalu kemudian membuka amplop dan ia rupanya tertarik begitu saja ke dalam amplop yang ternyata isinya merupakan dunia senja. Tukang pos akhirnya tinggal di dunia senja dalam amplop itu selama sepuluh tahun.

Setelah sepuluh tahun kemudian, tukang pos yang tidak bertambah tua itu baru berhasil mengantarkan amplop berisi senja kepada Alina. Namun, rupanya senja yang Sukab kirimkan hanya menimbulkan bencana bagi Alina.

Begitulah, Mas Seno sangat berhasil menyampaikan setiap senja dengan kata-kata yang indah. Penulis berhasil mendeskripsikan senja dengan sangat baik, bahkan mungkin orang yang seumur hidupnya belum pernah melihat senja pun akan menjadi memiliki pengalaman indah menikmati senja melalui buku ini. Dalam buku ini diceritakan bahwa senja merupakan sesuatu yang sangat indah dan begitu ditunggu oleh banyak orang. Bahkan dalam cerita yang lain disampaikan semua penjual berburu merekam senja terakhir di muka bumi kemudian ia jual di tokonya. Tentu saja, senja merupakan barang jualan terlaris yang sangat diincar oleh para pembeli yang ingin memiliki senja terakhir di muka bumi.

Oh, Senja…
Ternyata menikmati senja bisa dengan cukup membaca buku.

Senja, Aku Jatuh Cinta

Senja kembali menyapa
tanpa permisi membuatku jatuh cinta pada indah jinggamu
Senja pelan berganti malam
jangan pergi, boleh?
Jelaskan padaku, mengapa kauhadir di antara siang dan malam?
menawarkan kilau, membuatku terpukau
Jelaskan maksudmu, mengapa waktu terlalu singkat?
menyisakan kilau, dan ku masih terpukau
Senja, tunggu
      : aku, j a t u h  c i n t a.

Telaga Senja

 

danau

Aku berdiri di tepi telaga yang hijau entah biru dengan senja kemerahan di atasnya. Disemiliri angin dingin yang menusuk. Diterpa dedaunan gugur yang menguning. Lalu aku menirukan bunyi burung-burung kecil yang bercicit riang. Hingga aku menemukan nada sendiri untuk menyanyikan lagu tentang.. kamu.

Cukup lama aku menikmati telaga hijau entah biru yang dibalut jingga senja. Dipeluk kesunyian yang damai. Sambil sesekali membenarkan hijabku yang goyah disentuh angin sore itu. Berdiri dengan pandangan kosong padahal tidak, menyaksikan air yang sangat tenang tak seperti pikiranku saat ini. Kemudian aku duduk di bangku kayu yang terlihat rapuh namun masih kuat menahanku. Aku duduk di sebelah kiri, dan di kananku, ah bukan kamu, melainkan tak ada siapa-siapa selain sebatang pena dan buku yang nyaris dipenuhi namamu.

Kicau burung semakin berpadu dengan semesta. Tanganku mulai lelah menulis. Dan kinilah saatnya aku bercerita dengan suara yang tak terdengar oleh angin sekalipun. Membisikkan semua hal yang mengganjal di hati dan memutar ulang semua rekaman-rekaman di otak. Sesekali aku tersenyum mengenangnya. Namun, perlahan telaga itu semakin bening dan berpindah ke mataku. Berganti menjadi bulir mutiara yang berjatuhan. Ah, aku terlalu menghayati kenangan ini.

Senja semakin malu menampakkan cantiknya, ia perlahan menghilang. Pergi meninggalkanku. Sendiri. Saatnya aku pulang membawa perasaan yang lebih ringan. Bangku kayu itu berderit ketika aku mulai berdiri. Dedaunan gugur kembali beterbangan jatuh dari pangkuanku. Kutatap lekat-lekat telaga yang mulai gelap, sembari kuseka bekas tetesan air di pipiku. Aku harus pulang. Esok pagi upacara pernikahanmu, dan mataku tak boleh terlihat sembab. Wajahku tak boleh terlihat sendu. Aku harus nampak cerah secerah hatimu besok, harus bahagia. Ya, setidak-tidaknya aku bisa berpura-pura bahagia.

“Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan rahasia, lalu meneteskan air mata.” (Soekarno, 1933)

 

Sumber gambar: semakstrawberry.blogspot.com