Berita untuk Ayah

Perempuan itu berjalan cepat bahkan hampir berlari. Ia menggenggam erat sepucuk surat di tangannya. Tas ransel padat yang dipikul di pundak tak memperlambat langkahnya. Matanya berbinar, senyum di bibir tipisnya tak berhenti tersungging, pipinya merona merah muda serupa bunga. Ia semakin mempercepat langkahnya, tak sabar ingin segera tiba di rumah mungilnya. Ia tak sabar ingin membacakan isi surat tersebut di depan ayahnya. “Ayah, satu jalan telah terbentang di depanku. Mimpiku akan segera terwujud, mimpi kita, Ayah.” Ujarnya dalam hati.

Hanya membutuhkan beberapa langkah lagi untuk tiba di pagar rumah. Namun, langkahnya yang tadi berburu cepat seketika terhenti. “Ada apa ini?”. Sebuah mobil ambulans terparkir tepat di depan halaman rumahnya. Beberapa orang tetangga tampak berkerumun di depan rumah, dan beberapa lagi tampak mondar-mandir masuk ke dalam rumahnya. Saat kebingungan menderanya, tiba-tiba salah satu tetangga menghampirinya dengan setengah berlari.

“De, tadi ayahmu tidak sadarkan diri. Maaf tidak segera menghubungimu, kami terlalu panik sehingga langsung memanggil ambulans.”

Seketika kakinya gemetar dan lunglai. Perlahan ia menyeret kakinya untuk menghampiri ayahnya yang ditandu oleh beberapa tetangga untuk dimasukkan ke dalam ambulans. Matanya nanar, tanpa aba-aba air menggenanginya. Bibirnya bergetar. Kertas yang ia genggam erat perlahan jatuh terhempas begitu saja di atas rerumputan basah sehabis hujan.

Ayah…

~~

Salman Reading Corner, 13 Desember 2014

Advertisements