RSS

Review Milea: Suara dari Dilan

Hai,

Milea: Suara dari Dilan adalah jawaban atas segala teka-teki, serta jawaban atas segala pertanyaan dari buku yang ditulis Milea, yaitu Dilan: Dia adalah Dilanku.

Gak tahu mau mulai review dari mana, tapi buku ini benar-benar menguras perasaan. Gak kebayang jika aku jadi Milea dan kemudian membaca buku ini. Aku yang bukan Milea apalagi Dilan ikut menyesalkan, Ah, Dilan! Kenapa sih gak dari dulu kamu coba hubungi Milea dan pastiin semua pikiran menduga-dugamu itu.

Tapi, ya memang benar. Seperti kata Dilan, tidak ada yang bisa disalahkan atas hal ini. Semua yang telah terjadi memang akan jadi pelajaran.

Cerita Dilan dan Milea menjelaskan bahwa komunikasi di suatu hubungan adalah suatu hal yang sangat penting. Kesalahpahaman bisa menyebabkan Romeo dan Juliet mati, begitupun berakhir selama-lamanya cerita cinta Dilan dan Milea.

Laki-laki dan perempuan yang sama-sama memiliki kodrat gengsi, kadang harus meredam egonya masing-masing. Mengalah pada dirinya sendiri untuk memulai terlebih dahulu dalam meluruskan permasalahan yang didasari oleh ketidakpastian.

Di sisi lain, aku salut dengan Dilan. Aku tahu Dilan sangat menyesal namun dia bisa mengatasi kekecewaannya dengan cara yang bijak.  Begitupun Milea.

Dengan baca buku ini, rasanya ingin memiliki mesin waktu agar bisa merasakan Bandung di tahun 90an yang sepi, rimbun, dan dingin hingga kabut tipis bisa keluar dari mulut seperti yang dikatakan Dilan.

Siapapun yang mengikuti kisah Dilan dan Milea melalui ketiga bukunya, pasti akan jatuh cinta dengan sosok Dilan yang tahu benar bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik. Dilan yang sangat sayang Bunda, Disa, juga Lia. Dari ketiga buku ini begitu jelas bahwa Dilan selalu memperlakukan ketiga wanita ini dengan sangat baik, termasuk ke Susi juga yang jelas-jelas Dilan hindari.

Last but the first, good job ayah surayah Pidi Baiq!

Memorable quotes:

“Aku ingat, aku pernah bilang kepadanya jika ada yang menyakitinya, maka orang itu akan hilang. Jika orang itu adalah aku, maka aku pun harus hilang.” Pg 220

“Biar bagaimanapun tidak ada yang kan baik-baik saja tentang sebuah perpisahan, dan itu adalah perasaan sedihnya, bagaimana kita memulai dari awal dan kemudian mengakhirinya di tempat yang sama. Tetapi mau gimana lagi, kita harus tetap melanjutkan perjalanan bersama keyakinan dan harapan di udara.” Pg271

“Dan sekarang, yang tetap di dalam diriku adalah kenangan, di sanalah kamu selalu. Terima kasih, Lia. Terima kasih dulu kau pernah mau.” Pg357

Dewi Rahayu Hambali,
25 September 2016

 
Leave a comment

Posted by on 25,09,2016 in Books Review

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Rindu Masa Kecil

Saat ini, rasanya ingin satu hari saja kembali menjadi aku yang berumur 5 tahun. Menjadi aku, yang bebas berlama-lama tidur di paha ibu. Makan pagi, siang, dan malam dengan masakan khas ibu, masakan kesukaanku di manapun aku akan berada. Menonton kuis dan serial tv atau mendengarkan alunan lagu dari saluran radio favorit bersama ibu. Membaca majalah Bobo atau komik Donald Duck ditemani ibu. Bermain lempar karet gelang berdua dengan ibu, meskipun aku selalu kalah tapi bermain dengan ibu tak pernah membuatku bosan.

Rasanya ingin satu hari saja kembali menjadi aku yang berumur 5 tahun. Menjadi aku, yang sepanjang hari dapat melihat wajah ibu yang entah mengapa selalu teduh dan menenangkan. Wajah ibu yang membuatku malas main keluar rumah, karena tidak ada yang lebih aman selain senyum ibu.

Kurindu.

Satu hari saja, ingin kembali menjadi gadis kecil yang hanya dimiliki ibu.

 

Jumat, 26 Agustus 2016
10:37 pm

Salam Rindu,
Anak Ibu

 
Leave a comment

Posted by on 27,08,2016 in et catera (:

 

Tags: ,

International Women’s Day: Sebuah Instropeksi

Selamat hari wanita internasional untuk wanita-wanita di seluruh dunia. Semoga hari ini kita semua bahagia, pun hari-hari selanjutnya.

Wanita  itu hebat, semua orang pun tahu. Namun sayangnya segelintir orang belum menyadari atau bahkan menutup-nutupi kehebatan wanita, hingga malah menjadikannya alas kaki.

Naas.

Namun kerasnya hidup justru akan membuat wanita lebih hebat, lebih tangguh, lebih kuat dari pria sekali pun.

Tidak, bukan berarti aku menganggap pria tidak lebih hebat dari wanita. Pria maupun wanita sama-sama hebat dengan perannya masing-masing, dengan caranya masing-masing.

Wanita yang menganggap dirinya kuat sekalipun tetap membutuhkan pria di sampingnya. Begitupun lelaki, sehebat apapun ia, tetap membutuhkan wanita di sisinya.

Bagaimana Hawa tanpa Adam? Lalu, adakah kita jika Tuhan tidak menciptakan Hawa untuk menemani Adam?

Bagi diriku sendiri, aku memaknai hari ini sebagai pemicuku untuk lebih semangat menjalani peran sebagai wanita. Tinggal berhitung bulan, peranku sebagai wanita akan bertambah menjadi seorang istri. Dari cerita-cerita yang aku dengar, bukan hal mudah menjalani peran sebagai seorang istri. Tentu banyak tantangan, tentu banyak tuntutan. Sehingga, aku harus belajar menjadi seorang istri dari sekarang.

Dan jika Tuhan berkehendak, mungkin tak lama setelah pernikahan aku harus segera belajar menjalani peran sebagai seorang ibu. Tentu saja, menjadi ibu berarti tugasku bertambah berkali-kali lipat, tanggung jawab akan semakin berat. Aku harus menjadi madrasah pertama bagi anak-anakku kelak, menjadi role model kebanggaan mereka, dan menjadi super multi talented mother for them.

However, being a wife and a mother are every woman highest calling.

And, I am ready, insyaa Allah.

Semoga, pria yang mendampingiku kelak adalah pria yang mengerti bahwa sekarang aku bukan wanita sempurna yang hebat dalam segala hal. Bahwa dalam hal mendampinginya, mungkin ada wanita lain yang jauh lebih hebat dariku.

Semoga ia mau mendampingiku memperbaiki diri dan belajar perlahan menjadi wanita seutuhnya, menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya.

Happy international women’s day, woman.

8 Maret 2016
Dewi Rahayu Hambali

 

 
Leave a comment

Posted by on 08,03,2016 in et catera (:

 

Tags: , , ,

Apa Kamu, Yakin?

Apa kamu yakin akan memilihku?
Sholatku tidak selalu di awal waktu
Tilawahku belum terlalu bagus, masih kadang terbata
Sholat sunnat yang kukerjakan hanya sedikit
Puasa sunnat hanya seingatnya kukerjakan

Apa kamu yakin aku dapat mendampingimu?
Masakan yang kubuat masih hambar
Teh yang kuseduh sering terlalu manis
Rumah yang kutata tidak terlalu bersih dan rapi
Tanaman yang kurawat tak berbunga apalagi berbuah

Apa kamu yakin aku perempuan yang kamu cari?
Wajahku standar dengan pipi menggembung
Mataku bulat dan kadang berkantung
Ketika kudiam, kamu hanya akan menemui raut wajahku yang muram
Ucapanku kadang sinis, rentan menyakitimu

Apa kamu yakin padaku?
Hal apa dalam diriku yang memikat hatimu?
Aku takut kamu terpikat sementara,
bosan, lalu menghilang seperti yang sudah-sudah
Aku takut tidak bisa mengimbangi arah pembicaraanmu
Aku takut segala ketakutan datang padaku

Jadi, apa kamu yakin?
Apa kamu,
y a k i n?

 

-12,01,16

 
Leave a comment

Posted by on 17,01,2016 in Poems

 
 
%d bloggers like this: